PAPARAN abu vulkanik yang belakangan terjadi menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masyarakat lebih waspada. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah ada vitamin atau makanan tertentu yang perlu dikonsumsi?
Tentunya, makanan dan vitamin ini diharapkan membantu tubuh menghadapi paparan abu vulkanik. Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) RS Siloam TB Simatupang, dr. Henie Widowati, SpP, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone pun memberi jawaban soal pertanyaan tersebut.
dr. Henie mengatakan tidak ada vitamin khusus yang wajib dikonsumsi untuk menghadapi paparan abu vulkanik. Masyarakat tidak perlu berfokus pada jenis vitamin tertentu, seperti vitamin A, B, C, maupun D.
Alih-alih mengandalkan vitamin tertentu, masyarakat disarankan memenuhi kebutuhan dasar tubuh. Asupan makanan yang cukup, minum air yang cukup, serta istirahat yang memadai menjadi hal penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh.
“Enggak ada yang khusus ya dalam kondisi abu vulkanik seperti saat ini bahwa harus minum vitamin A, B, C, D atau apa pun,” ujar dr. Henie.
“Intinya sih makanan cukup, minum cukup, istirahat cukup, supaya imun tubuhnya juga tetap baik,” lanjutnya.
Kondisi tubuh yang prima diperlukan. Pasalnya, paparan partikel abu vulkanik dapat memicu respons tubuh, terutama pada saluran pernapasan dan jaringan yang terpapar.
Ketika partikel dari abu vulkanik masuk ke dalam tubuh, dapat terjadi reaksi peradangan. Tingkat reaksinya dapat berbeda-beda, bergantung pada seberapa besar dan lama seseorang terpapar.
“Kalau sudah ada partikel yang masuk ke dalam tubuh pasti akan terjadi suatu reaksi peradangan, baik itu ringan maupun yang berat tergantung pajanan yang masuk,” jelas dr. Henie.
Respons tersebut merupakan bagian dari mekanisme tubuh ketika menghadapi partikel asing. Karena itu, kondisi tubuh dan kemampuan sistem imun menjadi salah satu faktor yang mendukung proses pemulihan setelah mengalami paparan.