Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Chef Luvita Ho Jadi Juri Kompetisi Dessert Korea-Indonesia, Ungkap 3 Kriteria Penilaian

Mei Sada Sirait , Jurnalis-Minggu, 11 Oktober 2026 |15:30 WIB
Chef Luvita Ho Jadi Juri Kompetisi Dessert Korea-Indonesia, Ungkap 3 Kriteria Penilaian
Perwakilan juri asal Indonesia, Luvita Ho. (Foto: dok Mei Sada Sirait/Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Kedutaan Besar Korea Selatan menggelar kompetisi Sweet Connection: Korea Indonesia Collaborated Dessert Contest pada Sabtu (10/10/2026). Peserta ditantang menciptakan dessert dengan konsep dan rasa yang unik perpaduan Korea dan Indonesia.

Kompetisi yang digelar di Cook & Bake City, SCBD, Jakarta ini memasuki babak final dengan diikuti 10 tim. Masing-masing tim mendapat waktu sekitar dua jam untuk mengolah kreasi dessert mereka.

Para peserta pun ditantang untuk tidak sekadar menggabungkan dua jenis makanan, tetapi menciptakan hidangan yang punya konsep jelas dan menghasilkan perpaduan rasa yang harmonis.

Perwakilan juri asal Indonesia, Luvita Ho menilai kompetisi ini menjadi kesempatan menarik untuk memperkenalkan kuliner Korea dan Indonesia dalam satu sajian.

“Acara hari ini menurut saya sih sangat-sangat bagus, karena ini kan percampuran dua budaya, yang di mana Korea sama Indonesia kita meng-combine dalam bentuk dessert,” kata Luvita Ho saat ditemui di lokasi acara.

Menurutnya, makanan bisa menjadi cara untuk menghubungkan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. Karena itu, ia melihat kompetisi ini bukan hanya tentang mencari pemenang, tetapi juga memperkenalkan kekayaan kuliner kedua negara melalui kreativitas para peserta.

“Makanan adalah bahasa universal yang bisa meng-connect ke semua orang. Jadi ini adalah acara-acara yang sangat-sangat bagus untuk kita memperkenalkan makanan Korea dan juga makanan Indonesia di waktu bersamaan,” ucapnya.

Dalam proses penilaian, Chef Luvita tidak hanya memperhatikan tampilan akhir dessert yang disajikan peserta. Ia juga ingin mengetahui alasan di balik pemilihan bahan dan konsep yang mereka gunakan.

Menurutnya, setiap elemen dalam hidangan harus memiliki fungsi dan saling melengkapi. Perpaduan kuliner Korea dan Indonesia tidak cukup hanya dengan memasukkan bahan dari kedua negara ke dalam satu piring.

“Pertama pastinya saya akan tanya ke kontestan, purpose-nya bikin makanan ini apa. Saya pengin tahu kenapa kalian bikin ini. Dan kedua, pastinya saya akan lihat unsur-unsur Indonesianya dan Koreanya disatukan seperti apa,” jelasnya.

Chef Luvita Ho menekankan bahwa bahan-bahan yang digunakan harus menyatu dengan baik, bukan sekadar hadir untuk memenuhi konsep perpaduan dua budaya.

Ia juga mengungkap tiga aspek yang menjadi perhatiannya saat mencicipi hidangan, yakni tekstur, rasa, dan penyelesaian akhir atau finishing.

“Kalau saya sebagai pribadi, saya suka tekstur. Jadi saya pastinya tekstur pertama, kedua rasa, ketiga finishing-nya gimana. Jadi ya pokoknya ujung-ujungnya semua harus komplit ketiga elemen itu,” tuturnya.

Salah satu hal menarik yang ditemukan Chef Luvita selama melihat peserta memasak adalah kemiripan konsep sejumlah dessert tradisional Korea dan Indonesia. Ia mencontohkan songpyeon, kue beras tradisional Korea, yang memiliki kemiripan tekstur dengan klepon. 

Keduanya sama-sama memiliki bagian luar yang kenyal, meski bahan isian dan karakter rasanya berbeda. Di Indonesia, klepon dikenal dengan isian gula jawa. 

Sementara itu, songpyeon dapat menggunakan isian seperti madu atau biji wijen, bergantung pada variasinya. Menurut Chef Luvita, kemiripan tekstur tersebut membuka peluang bagi peserta untuk mengeksplorasi perpaduan rasa tanpa kehilangan karakter masing-masing makanan.

Selain itu, penggunaan buah-buahan lokal juga menjadi salah satu cara peserta memasukkan unsur Indonesia ke dalam kreasi dessert mereka.

Menurut Chef Luvita ada beberapa peserta yang mengusung konsep serupa. Namun, perbedaan teknik, keseimbangan rasa, dan eksekusi akhir bisa membuat hasilnya berbeda.

Karena itu, ia berharap para peserta bisa menikmati proses kompetisi sekaligus berani mengeksplorasi kemampuan mereka.

“Kompetisi itu kan untuk mengukur our capacity, itu sejauh mana. Dan pastinya terlepas menang atau kalah nanti setelah selesai juga kita akan menjadi orang yang lebih better,” ujarnya.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement