Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pengguna Layanan Konsultasi Jiwa Membludak, Sehari Bisa 600 Orang

Niko Prayoga , Jurnalis-Jum'at, 25 September 2026 |12:10 WIB
Pengguna Layanan Konsultasi Jiwa Membludak, Sehari Bisa 600 Orang
Pengguna Layanan Konsultasi Jiwa Membludak, Sehari Bisa 600 Orang (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Layanan konsultasi kesehatan jiwa Healing119.id mencatat peningkatan jumlah pengakses dalam beberapa bulan terakhir. Dalam sehari, layanan yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) itu dapat menerima sekitar 500 hingga 600 pengakses melalui sambungan telepon maupun WhatsApp.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan Healing119.id telah menerima lebih dari 220.000 kontak sejak diluncurkan. Jumlah tersebut tercatat dalam kurun waktu lebih dari satu tahun.

“Saat ini sudah ada kunjungan yang menghubungi baik chat maupun telepon itu lebih dari 220.000 call ataupun WhatsApp selama lebih dari setahun,” kata Imran dalam acara Temu Media Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Menurut Imran, jumlah pengakses pada awal layanan beroperasi berada di kisaran 350 hingga 400 kontak per hari. Namun, angka tersebut mengalami peningkatan sejak Februari 2026 hingga mencapai sekitar 500 sampai 600 pengakses setiap harinya.

Lonjakan pengakses tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola layanan karena jumlah konselor yang tersedia belum sebanding dengan permintaan konsultasi.

Imran mengatakan kondisi tersebut membuat pihaknya berada dalam situasi dilematis. Di satu sisi, peningkatan penggunaan Healing119.id menunjukkan masyarakat semakin memanfaatkan layanan kesehatan jiwa. Di sisi lain, tingginya jumlah pengakses membuat kebutuhan tenaga konselor ikut meningkat.

“Positifnya layanannya digunakan, gitu kan? Tapi sedihnya, kok tambah banyak nih yang menghubungi. Jadi ya senang campur sedih, tapi moga-moga nggak naik terus karena kalau naik terus kita susah tuh untuk nyari konselornya,” tutur Imran.

Antrean Pengakses Healing119.id

Keterbatasan tenaga pendamping turut memengaruhi kemampuan tim dalam menangani permohonan yang masuk. Psikolog Klinis dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Annelia Sari Sani, menyebut sebagian besar pengakses belum dapat dilayani karena kapasitas sumber daya manusia (SDM) masih terbatas.

“Dari hampir 200.000 pengakses, sayangnya saat ini kami baru bisa melayani atau menanggapi sekitar 15.979 penelepon dan pengakses melalui WhatsApp. Dari 15.979 itu saja, itu ada 3.036 atau sekitar 19 persen pengakses yang teridentifikasi memiliki pikiran mengakhiri hidup,” ujar Annelia.

Ia menjelaskan, dalam satu shift hanya terdapat sekitar lima psikolog. Sementara itu, durasi konsultasi setiap pengakses dibatasi hingga 30 menit untuk menyesuaikan dengan panjangnya antrean.

“Akses untuk Healing 119 itu satu pasien kita batasi 30 menit. Kenapa? Karena antriannya panjang sekali. Dalam satu shift psikolognya mungkin paling cuman lima orang, satu shift itu tiga jam, yang mengakses satu shift itu bisa 500-600 orang,” ungkap dia.

Untuk menangani tingginya jumlah pengakses, Healing119.id menggunakan sistem triase. Sistem tersebut digunakan untuk memilah pengakses berdasarkan tingkat kegawatdaruratan.

Pengakses yang tidak berada dalam kondisi krisis psikologis mendesak akan diarahkan untuk mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan setempat sesuai wilayah domisili.

Diakses Anak Mulai Usia 8 Tahun

Selain mencatat tingginya jumlah pengakses, tim Healing119.id juga menemukan bahwa layanan tersebut digunakan oleh kelompok usia yang cukup beragam. Annelia mengatakan anak-anak berusia 8 hingga 10 tahun juga telah mengakses layanan tersebut, terutama untuk menyampaikan persoalan kesepian.

“Yang cukup, entah ini prihatin atau juga bahwa orang sudah mulai mencari pertolongan, yang mengakses Healing119 itu mulai dari umur 8-10. Terutama memang masalahnya kesepian,” papar dia.

Keluhan mengenai kesepian, lanjut Annelia, paling banyak ditemukan pada kelompok remaja awal.

“Peak-nya kalau kesepian itu sekitar, seingat saya sih umur sekitar 12-14 tahun, jadi remaja awal. Kami juga terus terang kaget ketika datanya kemudian sudah terkumpul, oh pengaksesnya semuda ini toh ternyata,” lanjut Annelia.

Meski jumlah pengakses meningkat, Annelia mengingatkan agar angka tersebut tidak serta-merta diartikan sebagai peningkatan keinginan bunuh diri di masyarakat.

“Kenaikan volume orang yang mengakses crisis helpline tidak boleh otomatis kita terjemahkan sebagai peningkatan keinginan bunuh diri,” tegas Annelia.

Menurutnya, meningkatnya penggunaan layanan krisis juga dapat menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat untuk memperoleh bantuan, sekaligus menandakan semakin terbukanya akses terhadap layanan kesehatan mental.

“Hal ini bisa mencerminkan kombinasi bahwa memang ada kebutuhan untuk dibantu saat krisis, peningkatan awareness, peningkatan akses yang selama ini tidak ada menjadi ada dan bisa diakses dengan mudah. Dan dengan sistem bantuannya yang anonim, kemungkinan besar ini stigmanya sudah menurun,” pungkas dia.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement