Meski begitu, ada bagian penting yang ditekankan Adam dalam unggahannya. Penelitian tersebut menemukan hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan bahwa kebiasaan berpikir negatif secara langsung menyebabkan Alzheimer.
“Nah tapi, penelitian ini sifatnya baru mencari hubungan ya, bukan sebab-akibat,” tulis Adam.
Para peneliti menyebut masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah mengurangi repetitive negative thinking benar-benar dapat menurunkan risiko Alzheimer.
Dokter Adam pun mengingatkan agar temuan ini menjadi perhatian untuk mulai mengelola kebiasaan berpikir negatif.
“Namun tetap perlu jadi alarm untuk kita agar lebih mengelola kebiasaan berpikir negatif untuk menjaga kondisi otak,” lanjutnya.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.