JAKARTA - Vitamin C sering dianggap sebagai salah satu senjata andalan ketika badan mulai terasa sakit. Begitu pilek atau flu datang, tak sedikit orang yang langsung mengonsumsi vitamin C, termasuk dalam bentuk tablet effervescent atau suplemen dosis tinggi.
Harapannya tentu sederhana, yaitu supaya gejala cepat reda dan tubuh segera pulih. Namun, anggapan bahwa semakin banyak vitamin C akan semakin cepat menyembuhkan pilek ternyata tidak sepenuhnya benar.
Melansir The Standard, Dokter THT Hu Hao-chun membagikan penjelasan mengenai sejumlah fakta yang masih banyak dipercaya soal vitamin C. Berikut empat faktanya:
Salah satu anggapan yang cukup populer adalah rutin mengonsumsi vitamin C bisa membuat seseorang terhindar dari pilek.
Menurut penjelasan dr. Hu, anggapan tersebut sudah berkembang sejak tahun 1970-an setelah buku karya peraih Nobel, Linus Pauling, membahas manfaat vitamin C.
Namun, penelitian dalam skala besar yang dilakukan setelahnya tak menemukan bukti bahwa konsumsi suplemen vitamin C setiap hari dapat menurunkan kemungkinan seseorang terkena pilek pada masyarakat umum.
Artinya, mengonsumsi satu tablet vitamin C tambahan saat merasa akan sakit tidak otomatis membuat tubuh kebal terhadap pilek.
Bukan berarti vitamin C sama sekali tidak memberikan manfaat. Hanya saja, efeknya terhadap pilek ternyata relatif kecil. Jika seseorang baru mengonsumsi vitamin C setelah gejala pilek muncul, suplemen tersebut hampir tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap lama maupun tingkat keparahan penyakit.
Sementara itu, pada orang yang memang sudah rutin mengonsumsi vitamin C sebelumnya, durasi pilek rata-rata dapat berkurang sekitar 8 persen atau kurang lebih setengah hari. Jadi, jangan berharap mengonsumsi vitamin C dalam jumlah banyak setelah bersin-bersin atau hidung mulai meler akan membuat pilek langsung hilang.
Vitamin C memang termasuk vitamin yang larut dalam air. Kelebihannya dapat dikeluarkan melalui urine. Namun, bukan berarti mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan tidak memiliki risiko.
Asupan vitamin C lebih dari 2.000 miligram per hari dapat menyebabkan sejumlah gangguan pencernaan, seperti diare, mual, dan kram perut.
Karena itu, lebih banyak bukan berarti selalu lebih baik. Sebelum mengonsumsi suplemen vitamin C, penting untuk memperhatikan jumlah total yang dikonsumsi setiap hari.
Konsumsi vitamin C dalam jumlah berlebihan dan dilakukan dalam jangka panjang juga perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki masalah ginjal atau pernah mengalami batu ginjal.
Menurut dr. Hu, asupan vitamin C berlebih dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal kalsium oksalat.
Karena itu, jangan sembarangan mengonsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi hanya karena menganggapnya aman atau bisa memberikan perlindungan ekstra bagi tubuh.
Dokter Hu menyarankan agar kebutuhan vitamin C sebisa mungkin dipenuhi melalui makanan alami. Salah satu buah yang bisa menjadi pilihan adalah jambu biji.
Jambu biji diketahui mengandung vitamin C dalam jumlah tinggi. Bahkan, satu buah jambu biji disebut sudah dapat memenuhi atau bahkan melebihi kebutuhan vitamin C harian.
Jadi, daripada buru-buru mengonsumsi suplemen vitamin C dalam dosis tinggi ketika mulai pilek, pastikan terlebih dahulu kebutuhan nutrisi harian sudah terpenuhi melalui pola makan yang seimbang.
Vitamin C memang penting bagi tubuh, tetapi bukan berarti semakin banyak dikonsumsi akan semakin baik. Suplemen juga tak seharusnya dianggap sebagai obat instan untuk mencegah atau menghilangkan pilek.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.