PENGGUNAAN tampon ataupun menstrual cup sering dikaitkan dengan anggapan bahwa benda tersebut dapat merusak keperawanan. Anggapan ini masih banyak dipercaya oleh sebagian masyarakat.
Namun, secara medis, apakah pernyataan soal penggunaan tampon atau menstrual cup dapat membuat seseorang kehilangan keperawanan itu benar atau hanya mitos semata?
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Columbia Asia BSD, dr. Fadhilah Akhdasari, Sp.OG, di acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa istilah “keperawanan” sebenarnya bukan merupakan istilah medis yang dapat ditentukan melalui pemeriksaan fisik.
Yang dikenal secara anatomi adalah selaput himen. Itu merupakan jaringan tipis yang berada di sekitar atau sebagian menutupi pembukaan vagina. Bentuk dan ketebalan himen pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang lebih tipis, lebih tebal, elastis, atau memiliki bentuk dan ukuran lubang yang berbeda.
Kondisi himen juga tidak dapat digunakan untuk menentukan apakah seseorang pernah melakukan hubungan seksual atau belum. Himen dapat mengalami perubahan atau robekan karena berbagai hal, termasuk aktivitas fisik tertentu.
“Mitos (penggunaan tampon ataupun menstrual cup bisa merusak keperawanan) karena keperawanan itu sebenarnya enggak ada di istilah medis. Yang kita punya itu adalah selaput himen,” ujar dr. Fadhilah.
“Tapi selaput himen itu kan tidak sama rata. Bukan mengindikasikan keperawanan. Bentuknya selaput himen itu enggak sama. Ada yang lebih tebal, ada yang lebih tipis,” lanjutnya.

Penggunaan tampon pun tidak selalu menyebabkan kerusakan pada himen. Hal tersebut bergantung pada bentuk, ukuran, dan elastisitas himen masing-masing individu.
Begitu pula dengan menstrual cup, yang digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam vagina dan dapat digunakan dengan aman apabila ukuran serta cara penggunaannya sesuai. Oleh karena itu, anggapan bahwa penggunaan tampon atau menstrual cup secara otomatis “merusak keperawanan” tidak tepat secara medis.
“Pemasangan tampon bisa saja tidak merusak selaput himen,” jelas dr. Fadhilah.
“Kalau pada awam itu kan dibilangnya selaput himen rusak itu enggak perawan. Sebenarnya kan bukan itu karena bisa saja selaput himennya itu bentuknya berbeda atau dia rusak bukan karena aktivitas seksual. Jadi tidak mengindikasikan keperawanan," tutupnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.