JAKARTA — Terapi yang selama ini dikenal untuk membantu penanganan diabetes dan obesitas mulai mendapat perhatian dalam bidang kesehatan mental. Sebuah studi terbaru dari Griffith University, Australia, menemukan bahwa terapi penurunan berat badan berbasis GLP-1 semaglutide memiliki kaitan dengan penurunan risiko rawat inap pada pasien dengan gangguan bipolar.
Penelitian tersebut menganalisis data sekitar 15.000 orang selama 15 tahun. Hasilnya menunjukkan, pasien bipolar yang menggunakan semaglutide memiliki risiko 21 persen lebih rendah mengalami rawat inap akibat kondisi psikiatris dibandingkan kelompok yang tidak menjalani terapi tersebut.
Peneliti utama studi, Profesor Mark Taylor, menyebut temuan tersebut menunjukkan adanya potensi manfaat terapi GLP-1 di luar penggunaannya untuk diabetes tipe 2 dan obesitas.
“Temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa agonis reseptor GLP-1 mungkin memiliki manfaat di luar pengobatan diabetes dan obesitas, serta dapat menjadi jalur penelitian baru yang menjanjikan untuk gangguan bipolar,” ujar Taylor.
Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati ekstrem, mulai dari episode depresi hingga fase mania. Dalam kondisi berat, depresi dapat meningkatkan risiko munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri, sedangkan mania dapat menyebabkan perilaku impulsif, psikosis, hingga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.
Para peneliti menduga, manfaat terapi GLP-1 terhadap pasien bipolar kemungkinan berkaitan dengan pengaruhnya terhadap sejumlah proses biologis di tubuh, termasuk peradangan, stres seluler, dan mekanisme yang berhubungan dengan fungsi otak.
GLP-1 diketahui bekerja melalui sistem hormon yang berperan dalam pengaturan gula darah dan nafsu makan. Dalam perkembangannya, penelitian mulai melihat kemungkinan pengaruh jalur tersebut terhadap sistem saraf dan kesehatan otak.