Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa temuan ini belum berarti terapi GLP-1 dapat menggantikan pengobatan bipolar yang sudah tersedia. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami bagaimana mekanisme terapi tersebut dapat memengaruhi gejala gangguan bipolar.
Selain gangguan bipolar, sejumlah penelitian sebelumnya juga mulai mengeksplorasi hubungan antara terapi GLP-1 dengan kondisi kesehatan mental lainnya. Beberapa studi menemukan adanya potensi efek positif terhadap gejala depresi, meskipun hubungan langsung dan mekanismenya masih terus dikaji.
Sebuah penelitian pada hampir 30.000 pasien pada 2025, misalnya, menemukan adanya kemungkinan efek antidepresan dari penggunaan obat berbasis GLP-1. Sementara studi lain pada remaja dengan obesitas yang menjalani terapi semaglutide menemukan penurunan laporan terkait pikiran atau upaya bunuh diri.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa sebagian temuan tersebut masih berada pada tahap penelitian dan belum dapat dijadikan dasar bahwa terapi penurunan berat badan merupakan pengobatan khusus untuk gangguan mental.
Studi dari Griffith University ini membuka peluang baru dalam penelitian kesehatan, khususnya untuk melihat bagaimana terapi yang awalnya dikembangkan untuk metabolisme tubuh juga dapat memiliki pengaruh terhadap fungsi otak dan kondisi kesehatan mental.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.