Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Studi Ungkap Terapi Penurunan Berat Badan Berpotensi Bantu Pasien Bipolar

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Jum'at, 11 September 2026 |15:53 WIB
Studi Ungkap Terapi Penurunan Berat Badan Berpotensi Bantu Pasien Bipolar
Studi Ungkap Terapi Penurunan Berat Badan Berpotensi Bantu Pasien Bipolar (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA — Terapi yang selama ini dikenal untuk membantu penanganan diabetes dan obesitas mulai mendapat perhatian dalam bidang kesehatan mental. Sebuah studi terbaru dari Griffith University, Australia, menemukan bahwa terapi penurunan berat badan berbasis GLP-1 semaglutide memiliki kaitan dengan penurunan risiko rawat inap pada pasien dengan gangguan bipolar.

Penelitian tersebut menganalisis data sekitar 15.000 orang selama 15 tahun. Hasilnya menunjukkan, pasien bipolar yang menggunakan semaglutide memiliki risiko 21 persen lebih rendah mengalami rawat inap akibat kondisi psikiatris dibandingkan kelompok yang tidak menjalani terapi tersebut.

Peneliti utama studi, Profesor Mark Taylor, menyebut temuan tersebut menunjukkan adanya potensi manfaat terapi GLP-1 di luar penggunaannya untuk diabetes tipe 2 dan obesitas.

“Temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa agonis reseptor GLP-1 mungkin memiliki manfaat di luar pengobatan diabetes dan obesitas, serta dapat menjadi jalur penelitian baru yang menjanjikan untuk gangguan bipolar,” ujar Taylor.

Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati ekstrem, mulai dari episode depresi hingga fase mania. Dalam kondisi berat, depresi dapat meningkatkan risiko munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri, sedangkan mania dapat menyebabkan perilaku impulsif, psikosis, hingga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.

Para peneliti menduga, manfaat terapi GLP-1 terhadap pasien bipolar kemungkinan berkaitan dengan pengaruhnya terhadap sejumlah proses biologis di tubuh, termasuk peradangan, stres seluler, dan mekanisme yang berhubungan dengan fungsi otak.

GLP-1 diketahui bekerja melalui sistem hormon yang berperan dalam pengaturan gula darah dan nafsu makan. Dalam perkembangannya, penelitian mulai melihat kemungkinan pengaruh jalur tersebut terhadap sistem saraf dan kesehatan otak.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa temuan ini belum berarti terapi GLP-1 dapat menggantikan pengobatan bipolar yang sudah tersedia. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami bagaimana mekanisme terapi tersebut dapat memengaruhi gejala gangguan bipolar.

Selain gangguan bipolar, sejumlah penelitian sebelumnya juga mulai mengeksplorasi hubungan antara terapi GLP-1 dengan kondisi kesehatan mental lainnya. Beberapa studi menemukan adanya potensi efek positif terhadap gejala depresi, meskipun hubungan langsung dan mekanismenya masih terus dikaji.

Sebuah penelitian pada hampir 30.000 pasien pada 2025, misalnya, menemukan adanya kemungkinan efek antidepresan dari penggunaan obat berbasis GLP-1. Sementara studi lain pada remaja dengan obesitas yang menjalani terapi semaglutide menemukan penurunan laporan terkait pikiran atau upaya bunuh diri.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa sebagian temuan tersebut masih berada pada tahap penelitian dan belum dapat dijadikan dasar bahwa terapi penurunan berat badan merupakan pengobatan khusus untuk gangguan mental.

Studi dari Griffith University ini membuka peluang baru dalam penelitian kesehatan, khususnya untuk melihat bagaimana terapi yang awalnya dikembangkan untuk metabolisme tubuh juga dapat memiliki pengaruh terhadap fungsi otak dan kondisi kesehatan mental.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement