“Dipikir anak Anda gaptek? Anak Anda punya gadget. Anak Anda bisa Google dan pakai ChatGPT,” katanya.
Kondisi tersebut membuat peran orang tua menjadi semakin penting. Alih-alih menghindari pembicaraan mengenai seksualitas, orang tua perlu memberikan informasi secara bertahap dan menggunakan bahasa yang dapat dipahami sesuai usia anak.
Edukasi seksual pada anak juga tidak berarti mengajarkan hubungan seksual sejak dini. Pembahasannya dapat dimulai dari hal-hal mendasar, seperti mengenalkan anggota tubuh, memahami bagian tubuh yang bersifat privat, menjaga kebersihan diri, mengetahui batasan sentuhan, serta mengajarkan anak untuk mengatakan tidak ketika merasa tidak nyaman.
Ketika anak beranjak besar dan memasuki masa pubertas, pembahasannya dapat berkembang sesuai kebutuhan. Orang tua dapat menjelaskan perubahan fisik dan emosional, menstruasi, mimpi basah, fungsi organ reproduksi, hingga batasan dalam hubungan dengan orang lain.
Dokter Tirta menilai, ketika orang tua memilih menganggap edukasi seksual sebagai sesuatu yang tabu, anak akhirnya akan mencari sumber informasi lain.