JAKARTA - Anggapan bahwa vape merupakan pilihan yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional masih banyak dipercaya, terutama oleh kalangan anak muda. Padahal, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa rokok elektronik tetap memiliki risiko kesehatan dan bukan solusi untuk terbebas dari kecanduan nikotin.
Dalam unggahan video di akun Instagram-nya, Budi menyoroti kebiasaan sebagian anak muda yang memilih beralih dari rokok konvensional ke vape setelah diminta berhenti merokok. Menurutnya, mengganti jenis produk tembakau bukan berarti seseorang terbebas dari bahaya.
"Kalian nih disuruh berhenti merokok malah pindah ke vape. Ya gimana nih? Kalian mau memberikan alasan bahwa vape ini lebih aman, siapa yang bilang?" kata Budi.
Budi juga menyoroti popularitas rokok elektronik di kalangan Generasi Z. Bentuk perangkat yang praktis, desain yang menarik, serta pilihan rasa yang beragam dinilai membuat vape semakin diminati anak muda.
Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah vape jenis sekali pakai atau disposable pod. Menurut Budi, kandungan nikotin dalam produk tersebut dapat cukup tinggi sehingga pengguna perlu mewaspadai jumlah nikotin yang masuk ke dalam tubuh.
“Ini adalah contoh pod vape disposable. Kadar nikotinnya lima persen, sekitar 40 sampai 50 miligram nikotin. Satu pod ini nikotinnya setara dengan satu bungkus rokok yang isinya antara 12 sampai 16 batang,” ungkapnya.
Budi menilai varian rasa yang tersedia pada vape juga dapat membuat pengguna mengonsumsinya tanpa menyadari seberapa banyak cairan yang telah diisap. Rasa buah atau manis yang ditawarkan membuat produk tersebut terasa lebih menarik, khususnya bagi kalangan muda.
Selain nikotin, ia turut mengingatkan adanya zat kimia yang dapat terbentuk ketika cairan vape dipanaskan. Menurut Budi, proses tersebut dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi membahayakan kesehatan.
"Karena rasanya buah-buahan, kamu tidak sadar kan sudah nyedot sebanyak itu. Begitu cairan vape ini dipanasin, yang keluar adalah formalin. Zat yang sama yang digunakan buat ngawetin mayat," jelas Budi.
Ia juga menilai tampilan perangkat vape yang semakin beragam menjadi salah satu faktor yang membuat produk tersebut mudah menarik perhatian anak muda. Desain yang dianggap modern dan keren dapat membuat risiko penggunaan vape justru terabaikan.
"Memang sih kalau kita lihat casing-casing-nya gitu ya, keren-keren banget nih. Saya ngerti sih akibatnya. Jadi anak-anak Gen Z jadi suka. Karena kenapa? Karena kelihatan keren. Gara-gara gini, bisa jadinya begini," tambahnya.
Karena itu, Budi mengingatkan masyarakat, terutama mereka yang masih aktif menggunakan rokok maupun vape, agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan tubuh. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dinilai penting untuk mengetahui kondisi tubuh sejak dini.
Ia pun mengimbau masyarakat memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang tersedia di fasilitas kesehatan.
“Itu sebabnya cepat-cepat lakukan cek kesehatan gratis di Puskesmas,” pungkas Budi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.