Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Love Scamming Banyak Sasar Korban Usia 45-60 Tahun, Psikolog Ungkap Penyebabnya

Djanti Virantika , Jurnalis-Jum'at, 14 Agustus 2026 |10:05 WIB
Love Scamming Banyak Sasar Korban Usia 45-60 Tahun, Psikolog Ungkap Penyebabnya
Usia 45-60 tahun rentan terkena love scamming. (Foto: Freepik)
A
A
A

LOVE scamming atau penipuan berkedok hubungan asmara ternyata tidak selalu menyasar orang yang dianggap polos atau kurang memahami teknologi. Perempuan berusia 45 hingga 60 tahun banyak yang menjadi sasaran.

Bukan hanya soal usia, korban yang banyak masuk perangkap love scamming juga ternyata memiliki latar belakang pendidikan dan intelegensi yang baik. Lantas, mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Fenomena Love Scamming di Indonesia, 3.494 Kasus Dilaporkan dalam Setahun

1. Love Scamming Banyak Sasar Korban Usia 45-60 Tahun

Love scamming merupakan modus penipuan yang memanfaatkan hubungan emosional dan romantis untuk mendapatkan keuntungan dari korban. Pelaku biasanya membangun kedekatan secara perlahan melalui komunikasi intensif, perhatian, pujian, hingga membuat korban merasa memiliki hubungan khusus dengan dirinya.

Yang menarik, korban tidak selalu tidak menyadari adanya kejanggalan. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa saja memiliki kecurigaan bahwa dirinya sedang berhadapan dengan penipu, tetapi tetap memilih melanjutkan komunikasi.

Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Hersa Aranti, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okeozne, salah satu hal yang perlu diperhatikan soal korban dari love scamming adalah kondisi psikologis seseorang ketika memasuki usia 45 tahun ke atas. Menurut Hersa, usia 45 tahun ke atas merupakan fase kehidupan yang sangat beragam.

Setiap orang tentu memiliki pengalaman dan kondisi kehidupan yang berbeda. Namun, pada sebagian orang, fase ini ditandai dengan kehidupan yang lebih stabil dan terstruktur dibandingkan ketika masih muda.

Kesibukan pekerjaan, keluarga, rutinitas, hingga perubahan dalam kehidupan sosial dapat membuat seseorang tidak lagi mendapatkan banyak pengalaman yang memberikan sensasi spontan atau menyenangkan seperti sebelumnya.

“Di usia 45 tahun ke atas, sudah berada di usia yang beragam dan variatif hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya. Biasanya sudah tidak muda lagi, tidak banyak sparks atau hal-hal yang berwarna. Sudah berada di usia yang lebih settle dan stabil,” ujar Hersa.

Dalam kondisi seperti itu, munculnya seseorang yang memberikan perhatian secara intens dapat menghadirkan kembali perasaan yang mungkin sudah lama tidak dirasakan. Ucapan selamat pagi, pesan sebelum tidur, pujian, perhatian setiap hari, atau sekadar seseorang yang selalu siap mendengarkan cerita dapat memberikan warna baru dalam kehidupan.

2. Ketika Perhatian Jadi “Sparks” Baru

Hersa mengatakan pelaku love scam memahami betul bagaimana membangun kedekatan emosional. Mereka dapat memberikan perhatian secara konsisten hingga korban merasa dirinya kembali menjadi seseorang yang penting dan diinginkan.

Bagi sebagian korban, perhatian tersebut bukan semata-mata soal romantisme. Ada kebutuhan emosional yang ikut terpenuhi, seperti kebutuhan untuk didengarkan, dihargai, ditemani, dan merasa memiliki seseorang yang peduli.

Inilah yang menurut Hersa dapat menjadi salah satu alasan mengapa korban tetap melanjutkan hubungan. Padahal terkadang, sebenarnya sudah muncul kecurigaan.

“Bisa jadi sebenarnya sudah sadar bahwa ini scamming, tetapi tetap dilanjutkan karena ternyata bisa mengisi kekosongan itu. Enak juga setiap hari ada yang mengajak ngobrol, setiap hari ada yang memberikan ucapan-ucapan manis, sehingga akhirnya tetap dilakukan,” ujar Hersa.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement