
Ada anggapan bahwa orang dengan pendidikan tinggi atau intelegensi yang baik seharusnya lebih sulit ditipu. Namun, dalam kasus love scamming, persoalannya tidak sesederhana kemampuan seseorang dalam berpikir secara logis.
Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi, pekerjaan yang baik, serta kemampuan mengambil keputusan secara rasional dalam berbagai situasi. Namun, ketika kebutuhan emosional ikut terlibat, proses pengambilan keputusan dapat menjadi berbeda.
Hersa mengatakan bahwa dalam beberapa kasus, korban sebenarnya sudah memiliki kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Hal ini menunjukkan bahwa love scam bukan semata-mata persoalan kecerdasan atau tingkat pendidikan.
“Secara pikiran dan intelegensi sebenarnya oke. Tetapi dalam kasus tertentu, intelegensinya oke, namun yang terjadi seperti itu. Kadang sudah sadar, tetapi tetap go with the flow demi mendapatkan sparks yang mungkin selama ini sudah hilang,” tutupnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.