LOVE scamming atau penipuan berkedok hubungan asmara ternyata tidak selalu menyasar orang yang dianggap polos atau kurang memahami teknologi. Perempuan berusia 45 hingga 60 tahun banyak yang menjadi sasaran.
Bukan hanya soal usia, korban yang banyak masuk perangkap love scamming juga ternyata memiliki latar belakang pendidikan dan intelegensi yang baik. Lantas, mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Love scamming merupakan modus penipuan yang memanfaatkan hubungan emosional dan romantis untuk mendapatkan keuntungan dari korban. Pelaku biasanya membangun kedekatan secara perlahan melalui komunikasi intensif, perhatian, pujian, hingga membuat korban merasa memiliki hubungan khusus dengan dirinya.
Yang menarik, korban tidak selalu tidak menyadari adanya kejanggalan. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa saja memiliki kecurigaan bahwa dirinya sedang berhadapan dengan penipu, tetapi tetap memilih melanjutkan komunikasi.
Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Hersa Aranti, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okeozne, salah satu hal yang perlu diperhatikan soal korban dari love scamming adalah kondisi psikologis seseorang ketika memasuki usia 45 tahun ke atas. Menurut Hersa, usia 45 tahun ke atas merupakan fase kehidupan yang sangat beragam.
Setiap orang tentu memiliki pengalaman dan kondisi kehidupan yang berbeda. Namun, pada sebagian orang, fase ini ditandai dengan kehidupan yang lebih stabil dan terstruktur dibandingkan ketika masih muda.
Kesibukan pekerjaan, keluarga, rutinitas, hingga perubahan dalam kehidupan sosial dapat membuat seseorang tidak lagi mendapatkan banyak pengalaman yang memberikan sensasi spontan atau menyenangkan seperti sebelumnya.
“Di usia 45 tahun ke atas, sudah berada di usia yang beragam dan variatif hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya. Biasanya sudah tidak muda lagi, tidak banyak sparks atau hal-hal yang berwarna. Sudah berada di usia yang lebih settle dan stabil,” ujar Hersa.
Dalam kondisi seperti itu, munculnya seseorang yang memberikan perhatian secara intens dapat menghadirkan kembali perasaan yang mungkin sudah lama tidak dirasakan. Ucapan selamat pagi, pesan sebelum tidur, pujian, perhatian setiap hari, atau sekadar seseorang yang selalu siap mendengarkan cerita dapat memberikan warna baru dalam kehidupan.
Hersa mengatakan pelaku love scam memahami betul bagaimana membangun kedekatan emosional. Mereka dapat memberikan perhatian secara konsisten hingga korban merasa dirinya kembali menjadi seseorang yang penting dan diinginkan.
Bagi sebagian korban, perhatian tersebut bukan semata-mata soal romantisme. Ada kebutuhan emosional yang ikut terpenuhi, seperti kebutuhan untuk didengarkan, dihargai, ditemani, dan merasa memiliki seseorang yang peduli.
Inilah yang menurut Hersa dapat menjadi salah satu alasan mengapa korban tetap melanjutkan hubungan. Padahal terkadang, sebenarnya sudah muncul kecurigaan.
“Bisa jadi sebenarnya sudah sadar bahwa ini scamming, tetapi tetap dilanjutkan karena ternyata bisa mengisi kekosongan itu. Enak juga setiap hari ada yang mengajak ngobrol, setiap hari ada yang memberikan ucapan-ucapan manis, sehingga akhirnya tetap dilakukan,” ujar Hersa.

Ada anggapan bahwa orang dengan pendidikan tinggi atau intelegensi yang baik seharusnya lebih sulit ditipu. Namun, dalam kasus love scamming, persoalannya tidak sesederhana kemampuan seseorang dalam berpikir secara logis.
Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi, pekerjaan yang baik, serta kemampuan mengambil keputusan secara rasional dalam berbagai situasi. Namun, ketika kebutuhan emosional ikut terlibat, proses pengambilan keputusan dapat menjadi berbeda.
Hersa mengatakan bahwa dalam beberapa kasus, korban sebenarnya sudah memiliki kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Hal ini menunjukkan bahwa love scam bukan semata-mata persoalan kecerdasan atau tingkat pendidikan.
“Secara pikiran dan intelegensi sebenarnya oke. Tetapi dalam kasus tertentu, intelegensinya oke, namun yang terjadi seperti itu. Kadang sudah sadar, tetapi tetap go with the flow demi mendapatkan sparks yang mungkin selama ini sudah hilang,” tutupnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.