
Berangkat dari risiko kesehatan tersebut, kelayakan tempat tidur dan jenis kasur pun memegang peranan vital. dr. Tirta mengungkapkan bahwa perbedaan harga kasur yang cukup drastis di pasaran sejatinya terletak pada teknologi penopang tulang belakang (spine support) yang ditawarkan.
“Itu alasan kenapa ada kasur harganya 160 juta dan ada kasur harganya cuma 160 ribu. Pembedanya adalah kasur-kasur yang harganya ratusan juta tersebut, itu memiliki spine support dan memory. Karena tubuh manusia itu berbeda-beda,” ungkap dr. Tirta.
Kebutuhan akan kasur yang tepat ini dinilai sangat individual, tergantung pada anatomi tubuh masing-masing orang. Ia mencontohkan kondisi fisiknya sendiri yang membutuhkan tumpuan khusus saat beristirahat agar tidak menimbulkan ketegangan otot.
“Contoh, saya genetiknya tuh gede di otot sini, rhomboid sama latissimus dorsi atau sayap. Sehingga ketika saya tidur miring, sakit ini bahunya. Sehingga saya membutuhkan kasur yang dia kalau tidur, ininya harus bahunya harus tenggelam. Kalau enggak, sini akan sakit, tension sampai sini,” lanjut dia.
Lebih lanjut, pertimbangan pemilihan alas tidur menjadi kian krusial bagi mereka yang memiliki riwayat kelainan atau gangguan medis pada tulang belakang. Penanganan tempat tidur yang tepat dapat membantu mencegah keparahan gejala saraf terjepit maupun pembengkokan tulang.
“Yang kedua, bagi orang yang memiliki riwayat penyakit skoliosis, itu juga tidurnya harus khusus. Bagi orang yang memiliki HNP atau saraf terjepit di bagian lumbal 4 atau 5, dia harus memiliki tempat tidur yang ada lumbar support-nya,” pungkas dr. Tirta.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.