Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal itu bukan berarti terjadi secara langsung saat seseorang memakan makanan yang dibungkus menggunakan styrofoam. Namun, paparan akan terjadi sedikit demi sedikit dan menjadi bahaya jika terus menumpuk karena dilakukan dalam kurun waktu bertahun-tahun.
“Masalah kedua, kode styrofoam itu di angka enam, jenis plastik yang paling susah didaur ulang. Jadi setelah sekali pakai, dia nyaris selalu berakhir jadi sampah yang nggak terurai atau pecah jadi mikroplastik,” ucap Bang Sap.
Maka dari itu, ia mengingatkan agar masyarakat menghindari penggunaan styrofoam sebagai pembungkus atau wadah makanan khususnya yang memiliki suhu panas dan berminyak. Alternatifnya, ia menyarankan penggunaan bahan lainnya seperti daun maupun kertas atau dengan wadah pribadi berupa kaca atau stainless steel.
“Dan buat kamu yang punya usaha makanan, ini justru peluang, lho. Ganti kemasan yang lebih aman itu nggak harus mahal. Daun pisang malah nambah aroma, kertas kraft buat nasi kotak, atau besek bambu yang bikin kesan lebih premium. Konsumen sekarang malah lebih suka yang begini,” tuturnya.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.