JAKARTA - Styrofoam menjadi satu barang yang sudah tidak asing lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah sebagai wadah pembungkus makanan.
Banyak pembungkus makanan yang saat ini dibuat dari bahan styrofoam karena dinilai lebih murah, ringan dan praktis namun tetap menjaga estetika kemasan. Namun dibalik semua itu, ada bahaya tersembunyi yang mengincar dari penggunaan styrofoam sebagai pembungkus makanan.
Praktisi bisnis lingkungan sekaligus influencer, Bang Sap dalam unggahan video di akun Instagramnya mengatakan bahwa penggunaan styrofoam sebagai pembungkus makanan berpotensi membuat zat kimia dari styrofoam bisa terlepas dan melebur khususnya ke dalam makanan yang panas, berlemak dan asam.
“Kalau kena makanan favorit kita yang panas, berlemak, dan asam, itu kombinasi yang paling memicu zat kimianya lepas ke makanan,” kata Bang Sap, dikutip Rabu (12/8/2026).
Hal itu dikarenakan styrofoam sendiri sebetulnya adalah plastik dengan nama Polistirena. Ia menjelaskan, terkadang masih ada sisa bahan yang tidak terikat sempurna saat styrofoam dibuat. Bahan tersebut dinamakan Stirena, di mana bahan inilah yang berpotensi terpapar kepada makanan.
“Tiga hal yang bisa bikin dia gampang lepas yaitu panas, lemak, dan asam. Sialnya, itu persis ciri makanan kita. Makin panas, makin berlemak, makin lama nempel di wadah, makin banyak pula stirena yang ikut pindah ke piring,” katanya.
Bang Sap mengungkapkan, lembaga kanker dunia atau IARC pada tahun 2019 telah menaikkan status stirena dari mungkin menjadi kemungkinan besar bersifat karsinogenik bagi manusia. Karsinogenik sendiri merupakan senyawa atau zat yang bisa memicu kerusakan DNA dan pertumbuhan sel kanker.