Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pakar Ungkap Bahaya Dibalik Wadah Makanan Styrofoam

Niko Prayoga , Jurnalis-Rabu, 12 Agustus 2026 |14:03 WIB
Pakar Ungkap Bahaya Dibalik Wadah Makanan Styrofoam
Ilustrasi bahaya wadah styrofoam. (Foto: dok Magnific)
A
A
A

JAKARTA - Styrofoam menjadi satu barang yang sudah tidak asing lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah sebagai wadah pembungkus makanan. 

Banyak pembungkus makanan yang saat ini dibuat dari bahan styrofoam karena dinilai lebih murah, ringan dan praktis namun tetap menjaga estetika kemasan. Namun dibalik semua itu, ada bahaya tersembunyi yang mengincar dari penggunaan styrofoam sebagai pembungkus makanan.

Praktisi bisnis lingkungan sekaligus influencer, Bang Sap dalam unggahan video di akun Instagramnya mengatakan bahwa penggunaan styrofoam sebagai pembungkus makanan berpotensi membuat zat kimia dari styrofoam bisa terlepas dan melebur khususnya ke dalam makanan yang panas, berlemak dan asam.

“Kalau kena makanan favorit kita yang panas, berlemak, dan asam, itu kombinasi yang paling memicu zat kimianya lepas ke makanan,” kata Bang Sap, dikutip Rabu (12/8/2026).

Hal itu dikarenakan styrofoam sendiri sebetulnya adalah plastik dengan nama Polistirena. Ia menjelaskan, terkadang masih ada sisa bahan yang tidak terikat sempurna saat styrofoam dibuat. Bahan tersebut dinamakan Stirena, di mana bahan inilah yang berpotensi terpapar kepada makanan. 

“Tiga hal yang bisa bikin dia gampang lepas yaitu panas, lemak, dan asam. Sialnya, itu persis ciri makanan kita. Makin panas, makin berlemak, makin lama nempel di wadah, makin banyak pula stirena yang ikut pindah ke piring,” katanya.

Bang Sap mengungkapkan, lembaga kanker dunia atau IARC pada tahun 2019 telah menaikkan status stirena dari mungkin menjadi kemungkinan besar bersifat karsinogenik bagi manusia. Karsinogenik sendiri merupakan senyawa atau zat yang bisa memicu kerusakan DNA dan pertumbuhan sel kanker. 

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal itu bukan berarti terjadi secara langsung saat seseorang memakan makanan yang dibungkus menggunakan styrofoam. Namun, paparan akan terjadi sedikit demi sedikit dan menjadi bahaya jika terus menumpuk karena dilakukan dalam kurun waktu bertahun-tahun. 

“Masalah kedua, kode styrofoam itu di angka enam, jenis plastik yang paling susah didaur ulang. Jadi setelah sekali pakai, dia nyaris selalu berakhir jadi sampah yang nggak terurai atau pecah jadi mikroplastik,” ucap Bang Sap. 

Maka dari itu, ia mengingatkan agar masyarakat menghindari penggunaan styrofoam sebagai pembungkus atau wadah makanan khususnya yang memiliki suhu panas dan berminyak. Alternatifnya, ia menyarankan penggunaan bahan lainnya seperti daun maupun kertas atau dengan wadah pribadi berupa kaca atau stainless steel.

“Dan buat kamu yang punya usaha makanan, ini justru peluang, lho. Ganti kemasan yang lebih aman itu nggak harus mahal. Daun pisang malah nambah aroma, kertas kraft buat nasi kotak, atau besek bambu yang bikin kesan lebih premium. Konsumen sekarang malah lebih suka yang begini,” tuturnya.

(Agustina Wulandari )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement