Meski demikian, pihak brand mengakui adanya kekurangan dalam pengawasan selama acara berlangsung. Menurut manajemen, seorang pengunjung tiba-tiba mengambil mikrofon dari pembawa acara (MC) dan memulai aktivitas tersebut sebelum tim di lokasi dapat menghentikannya.
"Kami sangat menyesalkan situasi tersebut tidak ditangani sebagaimana mestinya. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada umat Muslim, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia," lanjutnya.
Di sisi lain, penyelenggara The Sounds Project turut mengecam keras insiden tersebut. Pihak TSP menegaskan bahwa mereka tidak pernah memberikan arahan maupun persetujuan terhadap aktivitas yang menjadikan agama sebagai bagian dari tantangan atau promosi produk.
"Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk," tegas pihak TSP melalui akun media sosial resminya.
Sebagai tindak lanjut, TSP telah memberikan teguran kepada pihak brand dan meminta persoalan tersebut diselesaikan secara bertanggung jawab. Penyelenggara juga meminta dilakukan identifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat langsung dalam insiden yang dinilai menyinggung isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).