Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bahaya Olahraga saat Kurang Fit, Bisa Memperparah Infeksi Sistemik

Niko Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 08 Agustus 2026 |07:09 WIB
Bahaya Olahraga saat Kurang Fit, Bisa Memperparah Infeksi Sistemik
Bahaya Olahraga saat Kurang Fit, Bisa Memperparah Infeksi Sistemik (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Memaksakan diri berolahraga ketika tubuh sedang sakit atau dalam kondisi kurang fit justru dapat meningkatkan beban kerja tubuh. Alih-alih mempercepat pemulihan, aktivitas fisik yang terlalu berat saat tubuh tengah melawan infeksi berisiko memperlambat proses penyembuhan hingga memicu komplikasi serius.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa ketika seseorang sakit, sistem imun sedang bekerja lebih keras untuk melawan infeksi. Kondisi tersebut membuat tubuh membutuhkan energi yang cukup untuk menjalani proses pemulihan.

Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, dr. Tirta mengatakan tubuh membutuhkan waktu dan energi tambahan untuk melakukan pemulihan, terutama ketika seseorang mengalami infeksi sistemik.

“Itu fakta, ketika kita sakit imunitas kita itu lagi drop, dan tubuh kita lagi kena pressure atau stres. Sehingga tubuh tuh memerlukan energi tambahan untuk me-recover infeksi sistemik tersebut. Apalagi kalau penyakitnya tuh berat kayak DBD, demam tifoid, diare, keracunan,” ujar dr. Tirta.

Memperparah Infeksi

Menurutnya, memaksakan olahraga ketika tubuh sedang mengalami infeksi dapat membuat beban pemulihan semakin berat. Akibatnya, proses penyembuhan dapat berlangsung lebih lama dan infeksi berpotensi memengaruhi organ lain.

“Kalau misalkan dia kena infeksi sistemik dan memaksakan untuk olahraga, itu bebannya tambah berat. Bisa kena di infeksinya lebih lama, atau bisa kena ke organ lainnya yang lebih parah,” jelasnya.

dr. Tirta kemudian memberikan contoh kondisi ekstrem, yakni seseorang yang mengalami demam, kurang tidur, tetapi tetap memaksakan diri melakukan aktivitas fisik berat seperti half marathon. Menurutnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan serius, seperti rhabdomyolysis dan acute kidney injury.

“Contoh, ada orang demam, terus tidurnya cuma dua jam, lalu dia nekat half marathon di pagi. Dia akan kena dua penyakit itu, bisa riskan rhabdomyolysis sama acute kidney injury,” papar dr. Tirta.

Rhabdomyolysis merupakan kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan dan pecah dalam jumlah besar. Kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh mengalami tekanan fisik yang berat, terutama saat cadangan energi tidak mencukupi.

“Rhabdomyolysis tuh ketika seseorang dalam kondisi pressure kuat, tubuh udah kehilangan cadangan energi, glikogen habis, fat habis, yang dipecah tuh adalah massa otot. Nah, massa otot kalau dipecah munculnya jadi sel otot yang pecah, jadinya rhabdomyolysis. Hancur itu, mati, kematian ending-nya,” tegasnya.

Selain rhabdomyolysis, dr. Tirta menyebut acute kidney injury atau cedera ginjal akut sebagai risiko lain yang perlu diwaspadai. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi ginjal secara tiba-tiba dan membutuhkan penanganan medis.

“Terus yang kedua acute kidney injury, ketika ginjal berhenti bekerja secara dadakan, ending-nya kematian,” pungkas dr. Tirta.

Karena itu, ketika sedang sakit, tubuh sebaiknya diberikan waktu yang cukup untuk beristirahat dan memulihkan diri. Aktivitas fisik juga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tingkat keparahan penyakit, terutama jika disertai demam atau gejala infeksi yang berat.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement