Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Benarkah Burnout Bisa Picu Nirempati?

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Kamis, 06 Agustus 2026 |22:10 WIB
Benarkah Burnout Bisa Picu Nirempati?
Benarkah Burnout Bisa Picu Nirempati? (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Burnout atau kelelahan akibat tekanan pekerjaan kerap dikaitkan dengan menurunnya empati seseorang, termasuk pada tenaga kesehatan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini dapat membuat seseorang lebih sulit memahami perasaan orang lain sehingga respons yang muncul terkesan dingin atau bahkan nirempati.

Melansir laman Pubmed Central, dalam satu dekade terakhir, berbagai riset mengenai empati di layanan kesehatan menemukan bahwa kemampuan tenaga medis untuk memahami kondisi pasien berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus kepuasan pasien. Sikap yang humanis, komunikasi yang baik, dan kesediaan mendengarkan menjadi aspek yang paling dihargai pasien saat menjalani konsultasi.

Beragam penelitian juga menunjukkan bahwa dokter yang mampu berkomunikasi secara empatik cenderung lebih mudah membangun hubungan dengan pasien. Dampaknya tidak hanya meningkatkan rasa percaya, tetapi juga membantu pasien merasa lebih berdaya dalam menjalani pengobatan serta memperbaiki kondisi kesehatannya.

Namun, kemampuan tersebut dapat menurun ketika tenaga kesehatan mengalami burnout. Kondisi ini muncul akibat tekanan pekerjaan yang berkepanjangan hingga menyebabkan kelelahan emosional, fisik, dan mental.

Burnout Disebut Dapat Menurunkan Empati

Burnout pada tenaga kesehatan telah menjadi perhatian di berbagai negara. Sejumlah penelitian menyebut sekitar satu dari tiga dokter umum pernah mengalami burnout.

Salah satu ciri burnout adalah munculnya sikap depersonalisasi, yakni kecenderungan menjaga jarak secara emosional dari pasien. Akibatnya, tenaga kesehatan menjadi lebih sulit menempatkan diri pada posisi pasien dan cenderung mengurangi keterlibatan emosional selama memberikan pelayanan.

Beberapa penelitian juga menemukan bahwa semakin tinggi tingkat burnout, semakin rendah pula tingkat empati klinis yang dimiliki tenaga kesehatan. Kondisi tersebut dianggap sebagai mekanisme perlindungan diri agar mereka tidak semakin terbebani secara emosional.

Apakah Empati Justru Memicu Burnout?

Di sisi lain, terdapat pandangan yang menyebut empati berlebihan juga berpotensi memicu kelelahan emosional.

Konsep ini dikenal sebagai compassion fatigue atau kelelahan empati, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu sering terpapar penderitaan orang lain hingga mengalami tekanan psikologis. Dalam praktik pelayanan kesehatan, situasi tersebut bisa terjadi ketika tenaga medis terus-menerus menghadapi pasien dengan kondisi berat tanpa memiliki ruang pemulihan yang memadai.

Meski demikian, para peneliti menilai kondisi tersebut lebih berkaitan dengan empati yang bersifat emosional, bukan empati klinis yang tetap menjaga batas profesional.

Empati Justru Bisa Melindungi dari Burnout

Sejumlah ahli berpendapat bahwa empati yang diterapkan secara tepat justru dapat membantu mencegah burnout.

Dengan memahami kondisi pasien tanpa larut dalam emosinya, tenaga kesehatan dinilai lebih mudah menemukan makna dalam pekerjaannya. Pendekatan ini juga mendorong refleksi diri, meningkatkan kepuasan kerja, dan mengurangi stres yang muncul akibat tekanan profesi.

Karena itu, pengembangan kemampuan empati dinilai penting sebagai salah satu upaya menjaga kesehatan mental tenaga kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Memahami Beragam Jenis Empati

Empati sendiri tidak hanya memiliki satu bentuk. Secara umum terdapat dua jenis utama, yaitu empati kognitif dan empati afektif.

Empati kognitif merupakan kemampuan memahami sudut pandang, pikiran, dan pengalaman orang lain tanpa harus ikut merasakan emosinya. Sementara itu, empati afektif membuat seseorang turut merasakan emosi yang dialami orang lain.

Dalam praktik pelayanan kesehatan, para ahli lebih banyak mendorong penerapan empati klinis, yakni perpaduan antara pemahaman terhadap kondisi pasien dengan kemampuan menjaga batas profesional. Pendekatan ini memungkinkan tenaga kesehatan tetap menunjukkan kepedulian tanpa kehilangan objektivitas maupun mengalami kelelahan emosional berkepanjangan.

Dengan demikian, burnout memang dapat berkontribusi terhadap munculnya sikap yang terkesan nirempati. Namun, empati yang diterapkan secara seimbang dan profesional justru dapat menjadi salah satu faktor pelindung agar tenaga kesehatan terhindar dari burnout sekaligus mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement