Lebih lanjut, dr. Wang menyoroti kalau selain kaya serat, oat juga mengandung banyak antioksidan polifenol. Dalam sebuah studi klinis, para peneliti memberikan oatmeal kepada peserta yang memiliki masalah sindrom metabolik. Hasilnya, kadar produk olahan dari polifenol di dalam darah para peserta meningkat secara signifikan.
Polifenol asli dari oat itu sulit diserap langsung oleh usus manusia. Senyawa ini harus dipecah dan diproses dulu oleh bakteri probiotik di dalam usus, lalu diubah menjadi bentuk baru yang bisa digunakan oleh tubuh.
Eksperimen lanjutan menunjukkan bahwa polifenol yang diproses oleh bakteri usus ini, begitu masuk ke aliran darah, akan mengganggu mekanisme produksi kolesterol alami tubuh.
Hebatnya, cara kerjanya sangat mirip dengan obat statin (obat penurun kolesterol) yang sering diresepkan dokter.
Penelitian tersebut juga menguji pola makan yang berbeda. Ada satu kelompok yang cuma makan oatmeal tiga kali sehari selama dua hari berturut-turut. Hasilnya memang menunjukkan bahwa kolesterol total dan kolesterol LDL (kolesterol jahat) mereka turun masing-masing sekitar 8 persen dan 10 persen.