“Jadi, apakah pasti merusak? Ya tidak juga, efeknya pada tiap-tiap orang berbeda. Asupan nikotin yang dimasukkan setiap orang juga beda-beda. Tapi setidaknya itu menjadi warning dan harus dibatasi ya,” ucapnya.
Sementara itu, melansir dari sebuah jurnal yang dipublikasikan di National Library of Medicine berjudul “Adverse Effects of Nicotine on Human Sperm Nuclear Proteins”, nikotin dinilai terbukti bisa memodulasi aspek spermatogenesis dan fungsi sperma, seperti penurunan jumlah, motilitas dan fungsi sperma itu sendiri.
Bahkan, nikotin bisa mengubah ekspresi molekuler sperma termasuk protein di dalamnya seperti keluarga histon H2B, anggota W, spesifik testis (H2BFWT), protein transisi 1 (TNP1), protein transisi 2 (TNP2), protamin-1 (PRM1), dan protamin-2 (PRM2). Jika berbagai protein itu terpapar nikotin bahkan bisa berpotensi menyebabkan infertilitas atau gangguan kesuburan.
Di sisi lain, jurnal penelitian lainnya berjudul “Use of E-cigarettes Associated with Lower Sperm Counts in a Cross-sectional Study of Young Men from the General Population” mengemukakan, jumlah sperma menurun saat terpapar nikotin. Meskipun, penurunan jumlah lebih signifikan terjadi pada perokok elektrik, di mana jumlah sperma totalnya lebih rendah di angka 147 juta vs 91 juta. Sementara perokok biasa hanya berada di angka 139 vs 103 juta.
Selain itu, kadar testosteron juga lebih tinggi pada pria perokok dengan total testosteron 6,2 persen dan 4,1 persen lebih tinggi, dan testosteron bebas 6,2 persen lebih tinggi pada perokok harian dan perokok sesekali, masing-masing, dibandingkan dengan pria non-perokok, tetapi tidak di antara pengguna rokok elektrik.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.