"Berdasarkan penelitian, angka kontaminasi bakteri pada air isi ulang di Indonesia sangat bervariasi, dari sangat kecil hingga 30 persen!" ujarnya.
Meski demikian, dr. Adam menggarisbawahi bahwa hasil penelitian tersebut belum dapat digeneralisasi secara nasional.
"Meskipun ada penelitian dengan hasil yang baik, belum ada penelitian nasional yang benar-benar mewakili kondisi depot air isi ulang di Indonesia secara keseluruhan," tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, mengonsumsi air yang terkontaminasi bakteri coliform dapat memicu gangguan pencernaan, seperti diare, nyeri perut, mual, hingga muntah. Risiko tersebut akan lebih tinggi pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Namun, dampak yang lebih mengkhawatirkan muncul jika air yang terkontaminasi dikonsumsi secara terus-menerus. Bakteri yang masuk ke dalam tubuh anak dapat menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan sehingga mengganggu penyerapan nutrisi.