
dr. Andi Sitti menjelaskan bahwa kondisi kekurangan oksigen pada otak atau hipoksia serebri dapat terjadi sangat cepat ketika aliran darah berhenti akibat henti jantung. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan otak yang bersifat permanen.
Menurutnya, meskipun pasien berhasil disadarkan kembali setelah mengalami henti jantung, bukan berarti kondisi tubuh akan kembali normal sepenuhnya.
“Nah itu bisa terjadi permanen. Misalnya dia sudah sadar lagi, pasti ada keluhan-keluhan atau gejala sisa. Bisa kejang, bisa penurunan kesadaran. Jadi tidak sembuh sempurna,” jelas dr. Andi Sitti.
Dengan begitu, tindakan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) sangat penting dilakukan secepat mungkin pada kasus henti jantung untuk menjaga aliran oksigen ke otak sebelum bantuan medis lebih lanjut diberikan. Dengan penanganan cepat, risiko kerusakan otak permanen dapat diminimalkan dan peluang keselamatan pasien menjadi lebih besar.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.