Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Otak Bisa Alami Kerusakan Permanen 4 Sampai 6 Menit saat Henti Jantung Tanpa CPR, Begini Penjelasan Dokter

Djanti Virantika , Jurnalis-Rabu, 01 Juli 2026 |10:05 WIB
Otak Bisa Alami Kerusakan Permanen 4 Sampai 6 Menit saat Henti Jantung Tanpa CPR, Begini Penjelasan Dokter
Otak Bisa Alami Kerusakan Permanen 4 Sampai 6 Menit saat Henti Jantung Tanpa CPR. (Foto: Freepik)
A
A
A

HENTI jantung menjadi kondisi medis darurat yang membutuhkan penanganan sangat cepat. Keterlambatan memberikan pertolongan, terutama CPR (Cardiopulmonary Resuscitation), dapat berdampak fatal pada fungsi otak.

Dalam hitungan menit saja tanpa suplai oksigen yang cukup, otak berisiko mengalami kerusakan permanen yang tidak dapat dipulihkan. Alhasil, penanganan segera menjadi kunci utama untuk menyelamatkan nyawa pasien.

henti jantung

1. Bahaya Henti Jantung Tanpa CPR

Dokter dari RS Harapan Bunda, dr. Andi Sitti Tandina, menjelaskan pentingnya penanganan cepat pada kasus henti jantung atau cardiac arrest. Dalam acara Morning Zone yang tayang di kanal YouTube Okezone, ia menegaskan bahwa otak dapat mengalami kerusakan permanen hanya dalam waktu 4 hingga 6 menit jika tidak segera mendapatkan pertolongan berupa CPR.

Menanggapi mitos atau fakta mengenai kondisi otak saat henti jantung, dr. Andi Sitti menegaskan bahwa pernyataan tersebut adalah fakta medis.

“Fakta, betul. Otak itu sesingkat itu dia masa hidupnya. Sekalipun misalnya kita sudah CPR, kita cek tiap 2 menit, itu kan berarti kurangnya oksigen. Kita sebut hipoksia serebri, kurangnya oksigen ke dalam otak,” ujar dr. Andi Sitti.

 

2. Penanganan Cepat

henti jantung

dr. Andi Sitti menjelaskan bahwa kondisi kekurangan oksigen pada otak atau hipoksia serebri dapat terjadi sangat cepat ketika aliran darah berhenti akibat henti jantung. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan otak yang bersifat permanen.

Menurutnya, meskipun pasien berhasil disadarkan kembali setelah mengalami henti jantung, bukan berarti kondisi tubuh akan kembali normal sepenuhnya.

“Nah itu bisa terjadi permanen. Misalnya dia sudah sadar lagi, pasti ada keluhan-keluhan atau gejala sisa. Bisa kejang, bisa penurunan kesadaran. Jadi tidak sembuh sempurna,” jelas dr. Andi Sitti.

Dengan begitu, tindakan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) sangat penting dilakukan secepat mungkin pada kasus henti jantung untuk menjaga aliran oksigen ke otak sebelum bantuan medis lebih lanjut diberikan. Dengan penanganan cepat, risiko kerusakan otak permanen dapat diminimalkan dan peluang keselamatan pasien menjadi lebih besar.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement