
Tak hanya lampu kamar, cahaya dari layar gadget juga disebut dapat memberikan efek serupa. Ketika produksi melatonin terganggu, dampaknya bisa berlanjut pada peningkatan hormon stres atau kortisol.
“Melatonin yang keganggu bisa naikin hormon stres, alias kortisol,” ujar Rizal.
Menurut Rizal, peningkatan kadar kortisol pada waktu yang tidak semestinya berpotensi memengaruhi kesehatan tubuh, termasuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Selain itu, tidur di ruangan yang terang juga dapat mengganggu fase REM (Rapid Eye Movement), yaitu fase tidur yang berperan penting dalam proses pemulihan tubuh dan otak.
Akibatnya, seseorang bisa tetap merasa lelah meski telah tidur cukup lama. Hasilnya, seseorang akan bangun dengan rasa pegal atau rasa lelahnya tidak hilang.
“Cahaya juga bisa disrupt tidur REM kita. Makanya kebanyakan kalau tidurnya lampu nyala jadi nggak restoratif. Alias bangunnya malah nggak seger atau pegal-pegal,” jelasnya.
Untuk itu, Rizal mengingatkan bahwa kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh durasinya, tetapi juga oleh kondisi lingkungan saat beristirahat. Ruangan yang gelap dinilai dapat membantu tubuh menjalankan proses biologisnya secara lebih optimal selama tidur.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.