
Selain faktor fisik, dokter juga menyoroti peran sugesti atau faktor psikologis dalam munculnya keluhan setelah makan daging. Banyak orang sudah memiliki keyakinan bahwa konsumsi daging berlebihan akan menimbulkan sakit tertentu, sehingga tubuh ikut merasakan gejala tersebut meskipun secara medis tidak selalu berbahaya.
Fenomena ini dikenal sebagai psikosomatis, yaitu kondisi ketika pikiran dapat memengaruhi munculnya gejala fisik.
“Enggak cuma daging. Sebenarnya makan kebanyakan apa pun tuh pencernaan kita kan kerja berat. Plus sugesti. Itu campuran ya jadi karena banyak aliran darah ke sana tuh otot-otot kita di tempat lain tuh bisa jadi lebih tegang, jadi enggak enak. Tapi secara teori sih harusnya nggak bikin sakit gitu,” tutur dr. Rendra.
“Tapi lebih karena sugestinya orang sering bilang ya kalau di belakang unduk itu bikin nggak enak, bikin sakit lama-lama kita jadi ngerasain juga. Jadi banyak memang beberapa gejala kedokteran tuh yang cukup dipengaruhi juga sama sugesti ya. Jadi namanya psikosomatis. Ya, psikosomatis pain itu sering terjadi juga gitu,” lanjutnya.
Meski demikian, dokter tetap mengingatkan bahwa konsumsi daging, terutama daging merah seperti kambing dan sapi, sebaiknya tetap dalam batas wajar. Pola makan yang tidak seimbang dalam jangka panjang tetap dapat meningkatkan risiko kolesterol, hipertensi, dan gangguan metabolik lainnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.