JAKARTA - Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) melalui Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan menyelenggarakan program edukasi PJB bagi masyarakat awam serta skrining PJB gratis bagi anak usia di bawah 18 tahun.Program ini dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia selama periode 24 Januari 2026 hingga 14 Februari 2026, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran publik sekaligus mendorong deteksi dini PJB pada anak.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan bahwa setiap tahun puluhan ribu bayi di Indonesia lahir dengan PJB, dengan banyak di antaranya berada dalam kondisi berat (severe).
Ia mengatakan pemerintah terus memberikan perhatian serius terhadap isu ini. Per 2025, misalnya, telah dilaksanakan skrining terhadap hampir 1,7 juta bayi dan menunjukkan masih banyak yang belum tertangani dengan baik.
“Ke depan, kita harus lebih agresif lagi dalam upaya penyelamatan nyawa mereka, termasuk dengan memperkuat kapasitas layanan serta menambah jumlah spesialis jantung anak dan bedah jantung anak sehingga dapat melakukan intervensi nonbedah dan intervensi bedah jantung anak lebih banyak lagi,” ungkap Menkes Budi dalam keterangan resmi, Jumat (20/2/2026).
dr. Ade Median Ambari, SpJP(K), PhD, FIHA, Ketua PERKI, menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian anak di dunia maupun di Indonesia.
Data Asia Tenggara menunjukkan prevalensi PJB sebesar 9–10 per seribu kelahiran hidup. Setiap 100 bayi lahir, terdapat 1 bayi yang menderita PJB. Data yang ada menunjukkan sekurangnya 45 ribu bayi per tahun lahir dengan PJB. Data Murni dkk. (2021) menyebutkan adanya keterlambatan deteksi penyakit jantung bawaan di Indonesia sebesar 60,8%.
“Kami melakukan skrining, khususnya di wilayah dengan prevalensi PJB yang tinggi. Kegiatan ini kemudian dicatatkan dalam Rekor MURI sebagai ‘Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Secara Serentak kepada Anak Terbanyak’. Ke depannya, kami berharap PERKI bisa terus berkontribusi untuk pemerintah dan bangsa dalam bidang pediatrik ini. Karena setiap detak jantung adalah harapan,” jelasnya.
Program skrining PJB ini ditujukan bagi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah luar biasa, serta pesantren, dan dilaksanakan di 29 kota dan kabupaten di 24 provinsi di Indonesia, mulai dari Banda Aceh hingga Jayapura.
Selain bertujuan menjaring kasus PJB pada anak usia di bawah 18 tahun dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai PJB, kegiatan deteksi dini ini juga diharapkan dapat menghasilkan gambaran prevalensi PJB nasional serta menjadi langkah awal pengumpulan data registri PJB nasional.
Data yang dihasilkan dari program skrining ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai permasalahan PJB di Indonesia dan menjadi salah satu acuan penting dalam perumusan program nasional untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.
Program skrining PJB berskala nasional ini juga mencatatkan prestasi dengan meraih rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan (PJB) secara Serentak kepada Anak Terbanyak”, dengan penyerahan penghargaan yang dilakukan bersamaan pada Malam Puncak CHD Awareness Week di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, 14 Februari 2026.
Selama periode 24 Januari hingga 14 Februari 2026, telah dilakukan pemeriksaan terhadap 2.702 murid, dengan 2.478 murid di antaranya menjalani pemeriksaan lanjutan berupa ekokardiografi.
Kegiatan ini dilaksanakan di berbagai daerah, meliputi Kota Surakarta, Kota Semarang, Kabupaten Bangka, Kota Makassar, Kabupaten Malang, Kabupaten Minahasa Utara, Kota Balikpapan, Kota Batam, Kota Bandung, Kota Medan, Kabupaten Morowali, Kota Padang, Kabupaten Bengkulu Utara, Kota Pontianak, Kota Ambon, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Mimika (Papua Tengah), Kota Bogor, Kota Kupang, Kota Bandar Lampung, Kota Banda Aceh, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Kota Mataram, Kota Jayapura, Kota Denpasar, Kota Jember, Kota Banjarmasin, serta Kota Tarakan (Kalimantan Utara).
Data yang dikumpulkan dalam program ini mencakup data antropometri, tanda vital (tekanan darah, nadi, dan saturasi oksigen), pemeriksaan fisik jantung, serta pemeriksaan ultrasonografi jantung (ekokardiografi). Dari hasil skrining tersebut, ditemukan 53 kasus penyakit jantung bawaan (PJB) dengan prevalensi sebesar 2,14%.
Angka ini tercatat lebih tinggi dibandingkan prevalensi PJB di tingkat global maupun di kawasan Asia Tenggara.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.