Saat Iblis Nian datang, tiba-tiba terdengar suara petasan yang cukup kencang dan nyala api yang menyala terang. Mendengar dan melihat hal itu, Nian tidak berani maju. Pria tua tersebut tetap berdiri sembari mengenakan pakaian berwarna merah hingga membuat Nian ketakutan dan lari terbirit-birit.
Keesokan harinya, saat para penduduk membuka rumah dan turun dari gunung, mereka mendapati desa dan ternak dalam keadaan aman. Sejak saat itu, warga mulai mempercayai pria tua tersebut.
Sejak itulah banyak warga menggunakan warna merah dalam bentuk bait-bait dan lampion sebagai simbol perlindungan dari Iblis Nian. Selain itu, mereka juga menyalakan petasan, membiarkan lampu tetap menyala, serta begadang hingga pagi hari.
Seiring berjalannya waktu, warna merah menjadi warna yang identik dengan setiap perayaan Imlek di akhir tahun dalam penanggalan lunar.
Sementara itu, melansir dari royalmint warna emas yang identik dengan perayaan Imlek dipercaya oleh masyarakat Tionghoa sebagai warna yang melambangkan supremasi kaisar. Selain itu, warna emas juga dianggap sebagai simbol keberuntungan, kekayaan, kemakmuran, dan nasib baik.
Warna emas juga sering dianggap melambangkan alam spiritual karena maknanya yang positif dan diyakini membawa energi baik dalam perayaan Tahun Baru Imlek.
Kepercayaan terhadap warna emas ini juga dikaitkan dengan mitos Iblis Sui, yang dipercaya sering membuat kekacauan setiap akhir tahun. Bahkan, Iblis Sui disebut-sebut meneror anak-anak dengan menyentuh kepala mereka hingga menyebabkan sakit parah.
Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran hingga suatu ketika ada seorang anak yang diberi delapan koin emas oleh orang tuanya. Anak tersebut membungkus koin emas dengan kertas merah dan membukanya kembali.
Saat ia tertidur karena lelah, orang tuanya membungkus kembali koin-koin emas itu dengan kertas merah dan meletakkannya di bawah bantalnya. Ketika Iblis Sui datang, ia diusir oleh cahaya terang dari koin emas tersebut.
Dari kisah itu, lahirlah kepercayaan bahwa warna emas dapat membawa keberuntungan, kemakmuran, dan kejayaan, sekaligus menjadi simbol supremasi kaisar.
(Niko Prayoga)
(Rani Hardjanti)