3. Mengandung Bahan Berbahaya
WHO mencatat bahwa dalam obat palsu sering ditemukan bahan beracun atau tidak layak konsumsi, seperti zat kimia industri atau kontaminan berbahaya. Konsumsi jangka pendek maupun panjang dapat memicu kerusakan organ.
4. Memicu Resistensi Antimikroba
Penggunaan antibiotik palsu atau substandar berkontribusi terhadap resistensi antimikroba, yakni kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap obat. Ini membuat infeksi semakin sulit diobati dan meningkatkan risiko kematian.
5. Meningkatkan Risiko Kematian, Terutama pada Anak
Obat palsu untuk penyakit serius seperti malaria atau infeksi, dapat menyebabkan kematian yang sebenarnya bisa dicegah, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.
Untuk itu, WHO menegaskan bahwa semua negara berisiko terdampak peredaran obat palsu, terutama di wilayah dengan akses obat terbatas dan pengawasan yang lemah. Sehingga BPOM mengimbau masyarakat untuk membeli obat dari sarana resmi, memeriksa izin edar, dan melaporkan dugaan obat palsu melalui kanal pengaduan resmi.
(Rani Hardjanti)