Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cara Komunikasi yang Tepat dengan Anak, Jadilah Pendengar yang Baik!

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Jum'at, 06 Februari 2026 |13:23 WIB
Cara Komunikasi yang Tepat dengan Anak, Jadilah Pendengar yang Baik!
Cara Komunikasi yang Tepat dengan Anak, Jadilah Pendengar yang Baik! (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Setiap kali orangtua berinteraksi dengan anak, itu sudah termasuk komunikasi. Bukan hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui nada bicara, tatapan mata, sentuhan, pelukan, dan ekspresi wajah. Semua itu menyampaikan pesan pada anak.

Cara orang tua berkomunikasi sangat berpengaruh pada perkembangan emosi anak. Dari sinilah anak belajar memahami perasaan, cara berbicara dengan orang lain, serta membangun hubungan yang sehat di masa depan.

Jenis-Jenis Komunikasi

Secara umum, komunikasi terbagi menjadi dua, yaitu verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, seperti:

  • Nada dan intonasi suara
  • Pilihan kata yang digunakan
  • Bahasa yang sesuai dengan usia anak

Komunikasi nonverbal adalah pesan yang disampaikan tanpa kata-kata, antara lain:

  • Ekspresi wajah
  • Kontak mata
  • Bahasa tubuh dan gerakan tangan
  • Jarak fisik
  • Sentuhan seperti pelukan atau tepukan lembut

Tips Berkomunikasi yang Baik dengan Anak

Melansir laman Unicef, berikut beberapa cara sederhana agar komunikasi dengan anak lebih efektif:

1. Menjadi pendengan yang baik
Saat anak bercerita, berikan perhatian penuh. Tatap matanya, tersenyum, dan anggukkan kepala agar anak merasa dihargai. Ajukan pertanyaan sederhana supaya anak mau bercerita lebih banyak.

2. Ulangi ucapan anak dengan kata lain
Mengulang ucapan anak membantu mereka merasa dipahami. Misalnya, saat anak berkata, “Aku tidak mau main sama dia lagi,” orang tua bisa menjawab, “Kamu sedang kesal dengan temanmu, ya?”

3. Gunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami
Pilih kata-kata yang sesuai usia anak. Hindari nada merendahkan atau membentak. Bicara dengan tenang agar anak merasa aman dan dihormati.

4. Jangan menyuap dengan hadiah
Memberi hadiah untuk perilaku dasar bisa membuat anak terbiasa bersikap baik hanya karena imbalan. Lebih baik buat aturan yang jelas, beri pujian saat anak berbuat baik, dan beri konsekuensi yang wajar jika melanggar.

5. Ajari anak mengenali perasaan
Bantu anak menyebutkan apa yang mereka rasakan, seperti senang, sedih, marah, takut, atau kecewa. Saat anak tantrum atau tertawa berlebihan, bantu mereka memahami dan menyebutkan perasaannya dengan kata-kata.

6. Beri pujian yang spesifik
Daripada hanya berkata “Hebat!”, lebih baik jelaskan apa yang membuat Anda bangga. Contohnya, “Ayah lihat kamu merapikan mainan sendiri, itu keren.”

7. Luangkan waktu untuk bersenang-senang bersama
Ngobrol santai, bercanda, dan tertawa bersama anak bisa mempererat hubungan. Nikmati momen kecil bersama mereka tanpa menghakimi.

8. Kritik perilakunya, bukan anaknya
Jika anak berbuat salah, fokuslah pada tindakannya. Misalnya, ganti kalimat “Kamu berantakan” menjadi “Ibu tidak suka kalau mainan dibiarkan di lantai.”

9. Beri contoh yang baik
Anak belajar dari apa yang orang tua lakukan. Perilaku orang tua sehari-hari akan ditiru anak. Pastikan juga menepati janji agar anak belajar tentang kepercayaan.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement