Selain itu, perubahan emosi juga sering muncul, misalnya anak yang sebelumnya ceria mendadak menjadi murung, mudah sedih, atau sensitif. Sementara dari sisi fisik, tekanan yang tidak tersalurkan bisa berubah menjadi keluhan psikosomatis, seperti sering sakit tanpa sebab medis yang jelas.
Tegar mencontohkan, pada anak yang mengalami tekanan akibat perubahan lingkungan atau perpisahan dengan orang tua, keluhan fisik dapat muncul secara tiba-tiba. Namun ketika tekanan itu mereda, kondisi fisik anak juga ikut membaik.
“Karena itu, dalam kasus seperti ini, tidak tepat jika kita langsung menyalahkan anak atau orang tua. Yang lebih penting adalah memahami tanda-tanda perubahan itu dan mencari tahu apa yang sedang dipikirkan anak,” jelasnya.
Ia pun mengatakan, kasus ini seharusnya menjadi pelajaran bersama agar orang dewasa lebih peka terhadap sinyal-sinyal kecil yang ditunjukkan anak. Orang tua atau guru harus lebih peka terhadap tekanan emosional yang dialami anak sebelum menjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
(Rani Hardjanti)