“Anak bisa berpikir, ‘Ibuku sudah susah, aku malah merepotkan’. Dari situ muncul rasa bersalah yang besar,” jelas Tegar.
Selain pola pikir tersebut, Tegar juga menjelaskan bahwa paparan konten negatif yang terus-menerus juga dapat memperburuk kondisi mental anak. Mengingat akses informasi saat ini sangat mudah didapat oleh siapapun, tak terkecuali anak-anak.
“Hari ini anak-anak sangat mudah melihat berita kriminal atau bunuh diri. Tanpa pendampingan, itu bisa menjadi referensi solusi yang keliru di benak anak,” katanya.
Ketika anak merasa ekspresinya tidak tertampung baik oleh orangtua, guru, maupun lingkungan, maka mereka bisa mengambil kesimpulan ekstrem.
“Anak berpikir sederhana: kalau aku hanya merepotkan, berarti lebih baik aku tidak ada,” ujar Tegar.
Oleh karena itu ia menekankan pentingnya peran orang dewasa untuk hadir secara emosional, bukan hanya secara fisik. Orangtua perlu lebih mendengarkan tanpa menghakimi, merespons keluhan sekecil apa pun, dan memberi ruang aman bagi anak untuk bercerita.
Hal ini bisa mengubah pemikiran anak yang semula ingin menyembunyikan perasaannya, menjadi lebih terbuka.
(Rani Hardjanti)