JAKARTA - Kasus meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur menyita perhatian publik. Diketahui bocah kelas 4 SD atau berusia 10 tahun itu meninggalkan surat sebelum mengakhiri hidup.
Belum diketahui pasti apa penyebab bocah 10 tahun itu mengakhiri hidup. Namun peristiwa ini menyoroti adanya tekanan emosional yang dirasakan oleh anak dan tidak tersampaikan pada orang tua atau lingkungan sekitarnya.
Psikolog Tegar Tata Utama, S.Psi menilai, anak sering kali menyimpan tekanan emosional. Bukan karena tidak memiliki masalah, melainkan karena merasa takut atau tidak didengar oleh lingkungan sekitarnya.
Ketika mereka berupaya menyampaikan perasaan berulang kali tapi tidak mendapat respons, maka anak cenderung memilih diam dan memendam semuanya sendiri. Hal ini tentunya berbeda dengan cara orang dewasa menyampaikan perasaannya.
“Anak itu unik. Mereka tidak mengekspresikan tekanan dengan cara orang dewasa. Ketika merasa tertekan, yang muncul justru keinginan dimanja, ingin ditemani, atau sebaliknya menjadi sangat pendiam,” jelas Tegar saat diwawancarai, Rabu (4/2/2026).
Dalam kondisi tertentu, anak bisa membangun asumsi sederhana tapi berbahaya di pikirannya. Misalnya, saat keinginannya tidak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga, anak bukan menyalahkan orang tua, tapi justru merasa dirinya menjadi beban.
“Anak bisa berpikir, ‘Ibuku sudah susah, aku malah merepotkan’. Dari situ muncul rasa bersalah yang besar,” jelas Tegar.
Selain pola pikir tersebut, Tegar juga menjelaskan bahwa paparan konten negatif yang terus-menerus juga dapat memperburuk kondisi mental anak. Mengingat akses informasi saat ini sangat mudah didapat oleh siapapun, tak terkecuali anak-anak.
“Hari ini anak-anak sangat mudah melihat berita kriminal atau bunuh diri. Tanpa pendampingan, itu bisa menjadi referensi solusi yang keliru di benak anak,” katanya.
Ketika anak merasa ekspresinya tidak tertampung baik oleh orangtua, guru, maupun lingkungan, maka mereka bisa mengambil kesimpulan ekstrem.
“Anak berpikir sederhana: kalau aku hanya merepotkan, berarti lebih baik aku tidak ada,” ujar Tegar.
Oleh karena itu ia menekankan pentingnya peran orang dewasa untuk hadir secara emosional, bukan hanya secara fisik. Orangtua perlu lebih mendengarkan tanpa menghakimi, merespons keluhan sekecil apa pun, dan memberi ruang aman bagi anak untuk bercerita.
Hal ini bisa mengubah pemikiran anak yang semula ingin menyembunyikan perasaannya, menjadi lebih terbuka.
(Rani Hardjanti)