JAKARTA - Pernahkah merasa lelah dengan pola berwisata yang hanya sekedar berkunjung tanpa menikmati dan mendalami makna arti spot yang dikunjungi? Seperti sisi budaya, kearifan lokal bahkan menjiwai keindahan alam yang disuguhkan. Jika merasa lelah dengan semua itu, maka tren “Slow Travel” cocok untuk diikuti.
Alih-alih mengejar daftar panjang destinasi dalam satu hari, “Slow Travel” membuat para wisatawan lebih memilih untuk "tinggal" sejenak, menghirup udara alam, dan menyelami dan mempelajari budaya lokal dengan ritme yang lebih tenang.
Sehingga, kesan berwisata tak hanya sekedar berkunjung dan melihat dengan kasat mata, tapi juga memiliki makna mendalam terkait tempat yang kita kunjungi.
Tren tersebut menumbuhkan sensasi baru dalam dunia pariwisata baik lokal maupun mancanegara. Banyak wisatawan yang akhirnya mencari spot wisata yang bisa memberikan sensasi berbeda yang dilengkapi dengan wisata budaya (culture tourism) yang dipadukan dengan keindahan alam (nature tourism).
Salah satu negara yang banyak dikunjungi untuk mencari tempat wisata seperti di atas adalah Hong Kong. Kota yang sering dicitrakan sebagai metropolis yang sibuk, ternyata menyimpan sisi lain yang sangat selaras dengan prinsip ini.
Berdasarkan data resmi dari Hong Kong Tourism Board (HKTB), sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 27.789 wisatawan Indonesia berkunjung ke Hong Kong. Salah satunya yang banyak dicari dan dikunjungi adalah wisata Ngong Ping 360 yang terletak di dataran tinggi bagian barat Pulau Lantau Hong Kong.
Tidak hanya menawarkan nuansa keindahan alam, tentang wisata ini juga menawarkan sisi budaya dan wisata religi dari masyarakat sekitar. Seperti aktivitas sehari-hari, budaya, adat istiadat, kuliner bahkan sis wisata religi.
Harmoni Alam dan Budaya dari Ketinggian
Menuju Ngong Ping merupakan bagian dari perjalanan slow travel itu sendiri. Menggunakan kereta gantung Ngong Ping 360, anda bisa menikmati hijaunya perbukitan Lantau dan birunya laut selama 25 menit. Hal itu bukan sekadar perjalanan untuk berpindah tempat, melainkan momen untuk melakukan kontemplasi visual.
Apalagi, saat ini Ngong Ping tengah merayakan hari jadinya yang ke-20 bertajuk "Big Occasion". Di mana wisatawan berkesempatan langka untuk melihat matahari terbenam dan transisi alam menuju malam.
Hal itu dikarenakan selama perayaan ulang tahunnya, Ngong Ping membuka jam operasional hingga pukul 21.00. Nuansa senja yang indah juga bisa anda resa dengan hawa ketenangan batin Big Buddha dan Jembatan Hong Kong–Zhuhai–Macau mulai berpendar lembut di bawah cahaya lampu, menciptakan suasana yang magis sekaligus menenangkan.
Nuansa tersebut biasanya sangat digemari oleh wisatawan Indonesia karena ketenangan saat bepergian sering kali menjadi hal utama bagi mereka. Apalagi, dalam perayaan kali ini, kabin kereta gantung akan dihias dengan desain ikonik merek lokal Hong Kong, seperti taman hiburan klasik Lai Yuen.
Ada juga instalasi "Year of the Horse" Di Ngong Ping Village untuk menyambut Imlek juga akan memberikan sentuhan budaya yang kental bagi setiap pengunjung yang melintas.
Melalui pendekatan yang lebih personal dan fasilitas yang inklusif, Ngong Ping 360 mengajak kita untuk sejenak berhenti dari rutinitas, mendengarkan desis angin di perbukitan, dan merayakan setiap momen perjalanan dengan lebih bermakna.
Hal tersebut didukung dengan Ngong Ping sebagai spot wisata yang ramai muslim. Seperti adanya fasilitas ruang shalat terpisah dengan perlengkapan lengkap (sajadah, mukena/abaya, Al-Qur'an) dan berbagai restoran di Ngong Ping Village telah tersertifikasi, sehingga bisa menikmati hidangan lokal tanpa rasa khawatir. Selain itu, Ngong Ping juga telah meraih Gold Rating dari CrescentRating dan gelar Muslim-Friendly Attraction of the Year 2025.
(Rani Hardjanti)