JAKARTA – Di tengah tuntutan akademik yang kian tinggi, sekolah dan orang tua kerap berlomba mengejar nilai, peringkat, dan target capaian. Namun, di balik angka-angka tersebut, ada satu faktor penting yang sering luput diperhatikan, yakni rasa aman dan kenyamanan emosional anak. Tanpa hal itu, anak justru bisa kehilangan semangat belajar di sekolah.
“Otak anak tidak bisa belajar secara optimal saat ia berada dalam situasi bertahan hidup secara emosional,” tegas psikolog anak Anastasia Satriyo, M.Psi. Situasi emosional ini menjadi kunci untuk memahami mengapa banyak anak tampak sulit fokus, mudah cemas, atau kehilangan minat belajar di sekolah.
Anastasia menjelaskan, rasa aman muncul ketika anak merasa diterima, tidak dihakimi, dan tidak ditakuti, sehingga otaknya berada dalam kondisi siap belajar. Pada fase ini, bagian otak yang berperan dalam berpikir, memahami, dan memecahkan masalah dapat bekerja dengan baik. Anak menjadi lebih rileks, berani mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan.
Sebaliknya, ketika anak berada dalam tekanan—takut salah, takut dimarahi, takut dibandingkan, atau merasa dirinya “tidak cukup pintar”—yang aktif justru adalah mode bertahan hidup. “Dalam kondisi ini, anak mungkin terlihat malas, tidak fokus, atau menolak belajar. Padahal yang terjadi adalah otaknya sedang melindungi diri,” jelas Anastasia.
Karena itu, belajar sejatinya bukan hanya soal materi pelajaran. Belajar adalah proses relasional. Ada pertanyaan emosional yang selalu hadir di benak anak: Apakah di sini aku aman untuk mencoba?
Masalah muncul ketika sekolah dan lingkungan belajar terlalu menitikberatkan pada pencapaian akademik semata. Fokus berlebihan pada nilai, peringkat, dan target sering kali tanpa disadari menanamkan pesan bahwa anak hanya berharga ketika berprestasi. Anak pun belajar mengejar hasil, bukan memahami proses.