JAKARTA - Gas Whip Pink tengah ramai dibicarakan netizen. Beredar rumor botol gas berwarna merah muda bertuliskan whip pink jika disalahgunakan bisa memberikan sensasi ‘fly’.
Memiliki tampilan yang menarik, produk Whip Pink ini sebenarnya merupakan gas Nitrous Oxide (N₂O). Gas tersebut sering dikenal sebagai whipping gas atau cream charger gas.
Lantas, apa fungsi dari gas yang terkandung dalam botol Whip Pink yang kini tengah viral di media sosial?
Gas whipping dalam produk Whip Pink merupakan dinitrogen oksida (N₂O) yang berfungsi sebagai propelan dan agen pembusa kelas makanan dalam aplikasi kuliner. Fungsi utamanya adalah larut ke dalam kandungan lemak krim kental di bawah tekanan, menciptakan tekstur yang stabil, berongga, dan mengembang (krim kocok) saat dilepaskan.
Dalam dunia kuliner, gas ini diperuntukan untuk membuat krim kocok atau whipped cream untuk mempercantik dan mempermanis hidangan penutup.
Nitrous oksida larut dalam lemak, sehingga ideal untuk mengocok krim. Krim kental mengandung setidaknya 30% lemak, menyediakan media yang kaya untuk melarutkan gas.
Ketika dinitrogen oksida dilepaskan ke dalam krim, ia membentuk campuran di bawah tekanan, dan gelembung gas didistribusikan secara merata ke seluruh krim. Saat dikeluarkan, perubahan tekanan menyebabkan gelembung-gelembung ini mengembang dengan cepat, mengubah krim cair menjadi busa yang stabil.
Reaksi inilah yang membuat dinitrogen oksida sempurna untuk keperluan kuliner. Ini tidak hanya menganginkan krim tetapi juga sedikit mempermanisnya, meningkatkan rasa tanpa memerlukan tambahan gula.
Namun, melansir German Federal Institute For Risk Assesment, Senin (26/1/2026), gas whippung dengan kandungan N2O ini juga disebut dengan gas tertawa.
Karena efek anestesi dan pereda nyerinya, gas tertawa juga digunakan sebagai anestesi, terutama dalam kedokteran gigi. Jika digunakan dalam jangka pendek di bawah pengawasan medis, gas tertawa dianggap hampir tidak memiliki efek samping.
Sayangnya, gas N2O ini kerap disalahgunakan bagi sebagian orsng untuk menciptakan rasa ‘fly’ bagi penggunanya. Studi dari negara-negara Eropa tetangga menunjukkan bahwa konsumsi gas tertawa juga dapat menyebabkan kerusakan kesehatan yang serius dan permanen.
Pada tahun 2024, tercatat 50 kasus keracunan nitrous oxide. Mayoritas yang terkena dampak adalah remaja dan dewasa muda (36 kasus), sebagian besar dengan gejala ringan hingga sedang.
Karena potensi risiko kesehatan, penggunaan gas tawa atau gas whipping ini perlu dipahami masyarakat. Hal ini lantaran efek samping yakni kerusakan pada sistem saraf yaf menyebabkan berbagai gejala dan seringkali sulit diklasifikasikan.
(Rani Hardjanti)