Tindakan grooming ini juga dapat memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD), hilangnya rasa percaya diri, serta kepercayaan terhadap orang lain. Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan korban sehari-hari jika tidak ditangani secara profesional.
Secara emosional, korban grooming sering mengalami kebingungan perasaan. Pelaku biasanya membuat korban merasa disayangi, sehingga korban kesulitan menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Korban grooming membutuhkan dukungan dari keluarga, tenaga profesional, dan lingkungan yang aman. Pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi, pengawasan yang bijak terhadap aktivitas digital, serta komunikasi terbuka antara anak dan orang dewasa.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)