JAKARTA – Viral seorang konten kreator kecantikan yang berhasil melunasi utang keluarganya justru dituduh memalsukan penyakit cerebral palsy yang dideritanya. Padahal, influencer yang dijuluki sebagai “malaikat bersayap patah” ini berasal dari keluarga pedesaan dan membangun bisnisnya secara mandiri meski hidup dengan disabilitas.
Influencer kecantikan tersebut adalah Lin Ling (25), yang dikenal secara daring dengan nama “Lin Kue Beras Ketan”. Ia berasal dari daerah pedesaan Bijie, Provinsi Guizhou, Tiongkok barat daya.
Menurut laporan media daratan Tiongkok, Hangzhou Daily, Lin didiagnosis menderita penyakit kuning sejak lahir. Akibat minimnya pengetahuan medis orang tuanya, penanganan penyakit tersebut terlambat. Saat berusia satu tahun, Lin kemudian didiagnosis mengalami cerebral palsy.
Lin mengungkapkan bahwa kelainan bentuk anggota tubuh serta kesulitan berkomunikasi membuatnya merasa minder sejak kecil. Ia bahkan mengaku sering merasa terlalu malu untuk keluar rumah sendirian.
Kondisi ekonomi keluarganya pun sulit. Ayah Lin dilaporkan menggadaikan rumah mereka dan menumpuk utang besar, sementara sang ibu harus bekerja di luar kota dan meninggalkan ketiga anaknya di desa.
Pada 2022, terinspirasi oleh perkembangan budaya internet, Lin memutuskan memulai perjalanan sebagai influencer kecantikan. Ia belajar secara otodidak dan berjuang keras mengatasi keterbatasan fisiknya.
Dengan tangan yang sering bergetar, Lin menghabiskan waktu berjam-jam untuk merias wajah. Ia bahkan kerap tak sengaja melukai matanya sendiri saat mengoleskan maskara. Bersama bantuan seorang temannya, Yangyang, Lin merekam dan mengedit kontennya secara mandiri, meniru riasan selebritas dan perlahan membangun gaya khasnya sendiri.
Usahanya membuahkan hasil. Akun media sosial Lin kini memiliki lebih dari 800.000 pengikut. Banyak penggemar memuji hasil riasannya yang dinilai halus, bersih, dan inovatif. Kontennya pun semakin beragam, mulai dari merias wajah ibunya, penggemar penyandang disabilitas, hingga mewarnai rambutnya sendiri.
Popularitas tersebut membuka jalan bagi Lin untuk melakukan siaran langsung penjualan produk kecantikan serta menerima kerja sama iklan. Dalam kurun waktu tiga tahun, ia berhasil melunasi utang keluarganya sebesar 400.000 yuan atau sekitar Rp912 juta.
Namun, kesuksesan itu juga memicu cibiran. Sejumlah warganet menuduh Lin memalsukan penyakitnya demi meraih simpati publik.
“Kisah kebangkitan penyandang disabilitas seperti ini adalah cara termudah untuk menarik perhatian. Pasien cerebral palsy tidak mungkin bisa merias wajah sesempurna itu,” tulis seorang netizen.
Menanggapi tudingan tersebut, Lin mengunggah video yang memperlihatkan sertifikat disabilitasnya. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki tim manajemen.
“Saya hanya ingin mengurangi beban keluarga lewat usaha saya sendiri. Mobilitas saya mungkin terbatas, tetapi kecerdasan saya tidak rendah. Apa pun yang bisa dilakukan orang normal, saya juga bisa melakukannya jika berusaha cukup keras,” ujar Lin.
Dukungan pun mengalir deras di kolom komentarnya. Banyak penggemar memuji keteguhan hati dan semangat juangnya.
“Lin sudah cantik, dan kemampuan merias wajahnya luar biasa. Dia seperti peri kecil,” tulis seorang penggemar.
Netizen lain menyebutnya sebagai “batu giok yang cacat, malaikat dengan sayap patah”.
Pada Oktober lalu, Lin membuka studio kecantikannya sendiri dan berencana mengembangkan bisnis tersebut demi terus menopang perekonomian keluarganya.
Seorang pengamat daring yang mengikuti kisah Lin menyebut, “Ini adalah gadis yang ambisius. Penyakitnya tidak menghancurkannya, justru membuatnya bersinar lebih terang.”
(Kurniasih Miftakhul Jannah)