Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Apa Itu Virus Superflu yang Gejalanya Lebih Parah dari Covid-19?

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Kamis, 01 Januari 2026 |08:15 WIB
Apa Itu Virus Superflu yang Gejalanya Lebih Parah dari Covid-19?
Apa Itu Virus Superflu yang Gejalanya Lebih Parah dari Covid-19? (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA – Apa itu virus superflu yang gejalanya lebih parah dari Covid-19? Amerika Serikat tengah menghadapi lonjakan besar kasus flu pada musim dingin tahun ini. Banyak di antaranya dikaitkan dengan varian virus influenza A H3N2 yang dikenal sebagai subklade K, yang oleh sebagian kalangan dijuluki sebagai “superflu”.

Lonjakan kasus flu ini terjadi bersamaan dengan merebaknya penyakit lain seperti COVID-19, batuk rejan, dan penyakit pernapasan musiman, sehingga memberi tekanan tambahan pada sistem layanan kesehatan. Situasi ini juga muncul di tengah kekhawatiran publik terkait kebijakan vaksinasi, terutama untuk anak-anak.

Kasus Flu Capai Jutaan

Berdasarkan data terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), hingga musim flu berjalan saat ini tercatat sedikitnya 7,5 juta kasus flu, dengan 81.000 rawat inap dan 3.100 kematian.
Mayoritas kasus tersebut dikaitkan dengan subklade K, varian dari H3N2 yang diketahui menyebar sangat cepat. Meski begitu, CDC menyebut tingkat keparahan penyakit secara umum masih tergolong rendah, namun aktivitas influenza diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.

Flu Melonjak di Berbagai Wilayah

Lonjakan flu terjadi hampir di seluruh wilayah Amerika Serikat. Negara bagian New York mencatat jumlah kasus flu positif mingguan tertinggi sepanjang sejarah pada pekan yang berakhir 20 Desember. Connecticut juga melaporkan peningkatan kasus ke level tertinggi yang pernah diamati para dokter.

Sementara itu, California mengalami peningkatan signifikan di berbagai wilayah. Pejabat kesehatan setempat menyebut musim flu tahun ini berpotensi lebih buruk dibanding tahun sebelumnya.
Secara global, sejumlah negara Eropa seperti Inggris dan Irlandia juga melaporkan rekor kasus flu. Beberapa rumah sakit bahkan kembali menerapkan penggunaan masker demi menekan laju penularan, mengingat tekanan besar pada fasilitas kesehatan.

Apa Itu “superflu”?

Para ahli menegaskan, istilah “superflu” bukan istilah medis resmi. Sebutan ini biasanya muncul saat suatu strain flu menyebar luas atau menyebabkan lonjakan kasus yang tidak biasa, demikian dilansir dari Axios.


Menurut pakar penyakit menular dari Universitas Johns Hopkins, Amesh Adalja, subklade K disebut “superflu” karena populasi memiliki kekebalan yang relatif rendah terhadap varian ini dan perlindungan vaksin tidak sepenuhnya spesifik. Meski demikian, tidak ada bukti bahwa strain ini menyebabkan penyakit yang lebih parah dibanding flu lainnya.

Efektivitas Vaksin Masih Penting

Meski vaksin flu musim ini tidak secara khusus menargetkan subklade K, para ahli menyebut vaksin tetap memberikan perlindungan penting, terutama untuk mencegah penyakit berat dan rawat inap. Data dari otoritas kesehatan Inggris juga menunjukkan vaksin masih memiliki efektivitas terhadap H3N2.
Ahli virologi Andrew Pekosz menekankan bahwa peningkatan kasus lebih disebabkan oleh cepatnya penyebaran virus, bukan karena tingkat keparahan yang jauh lebih tinggi.

Gejala dan Pencegahan

Gejala flu akibat H3N2 klade K umumnya sama dengan flu biasa, seperti demam, batuk, pilek, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, serta menggigil. Flu biasanya muncul secara tiba-tiba dalam dua hingga tiga hari setelah terpapar virus.
Para ahli tetap merekomendasikan vaksinasi flu, terutama bagi kelompok rentan. Vaksin membutuhkan waktu sekitar 10–14 hari untuk membentuk respons imun dan membantu mengurangi risiko infeksi berat.
 

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement