KEPALA Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar menyoroti tentang harga obat di Indonesia yang mahal dibanding negara lain. Taruna menjelaskan, harga obat di Indonesia 400 persen lebih mahal dibanding di luar negeri.
Menurut Taruna, alasan harga obat di Indonesia jauh lebih mahal dari negara lain salah satunya karena obat-obatan masih impor.
"Pak presiden bilang di atas 80 persen sampai 90 persen obat yang diproduksi itu bahan (baku) nya import," ujar Taruna Ikrar.

Ikrar menambahkan, dengan bahan baku yang masih impor, tentunya pemasok bahan baku tersebut bisa menaikkan harga. Sehingga harga obat juga ikut naik.
"Kalau harganya mahal masuk sini terpaksa jual mahal, itu saling terkait, tentu atas dasar instruksi beliau (Presiden Jokowi) saya akan upayakan maksimal," kata Ikrar.
Selain itu, harga obat di Indonesia terbilang cukup mahal karena biaya promosi dan periklanan.
"Pada umumnya harga obat di Indonesia itu mahal karena harga promosi, harga advertisement, harga iklan. Kita harus bisa menekan di situ dengan perusahaan, mereka harusnya menekan iklan jangan berlebihan. Kan logikanya harga bisa turun," tutur Taruna.
Lebih lanjut Taruna mengatakan alasan obat di Indonesia mahal karena belum bisa menjadi obat generik. Sementara obat non generik di Indonesia hak patennya masih ada sehingga harganya mahal. Namun dia melihat ada beberapa oknum yang membuat obat generik seakan-akan menjadi obat paten. Sehingga membuat harganya mahal.
"Obat kan dibagi tiga, ada generik yang patennya hilang itu kan murah, dan obat paten biasanya mahal. Ada juga biasanya obat sudah generik kemasan diubah dan dibuat semacam obat paten itu biasanya yang dimainkan harganya," ucapnya.
(Leonardus Selwyn)