Bagi Masyarakat Mentawai, budaya tato dilakukan pada saat usia 7 tahun yang dilakukan oleh sipatiti, seniman tato.
BACA JUGA:
Sebelum penatoan, dilakukan punen enegat atau upacara inisiasi di puturukat (galeri miliki sipatiti). Upacara ini dipimpin oleh sikerei dan harus menyembelih satu ekor babi untuk sekali tato.
Proses tato tidak menggunakan bius, sehingga tato tidak bisa dilakukan sekaligus karena sangat beresiko dan sakit. Oleh karena itu, masyarakat Mentawai memiliki waktu jeda sebulan, atau hingga bagian tato sembuh dan dinilai bagus.
