SUKU Dayak di Kalimantan punya tradisi berburu kepala manusia yang dikenal dengan istilah ngayau atau kayau. Namun, tradisi ini sudah berhenti dilakukan. Apa alasannya?
Masyarakat Dayak dulu melakukan tradisi ngayau dengan motif mengadu kekuatan. Biasa kepala yang dipenggal berasal dari pihak musuh.
Banyak juga yang melakukan ngayau untuk memperoleh kekuatan magis.
BACA JUGA:
Seiring waktu, suku Dayak pun mengalami transformasi dan menghentikan tradisi menyeramkan berupa memburu kepala manusia yang sudah dilakoni turun-temurun.
Suku Dayak berhenti berburu kepada manusia sejak diadakannya Perjanjian Tumbang Anoi pada 22 Mei-24 Juli 1894. Perjanjian ini dilakukan untuk menyudahi tradisi permusuhan antara sub suku Dayak seperti hakayau/ngayau (berburu kepala), hajipen (perbudakan), hasang (peran), dan habunu (pembunuhan).
Warga Dayak
Perjanjian Tumbang Anoi yang menjadi alasan suku Dayak berhenti berguru kepada diprakarsai oleh Residen Belanda, Brus yang datang ke Kalimantan Tenggara pada Juni 1893.
BACA JUGA:
Dia mengundang 1.000 orang dari 152 sub etnis Dayak di Kalimantan termasuk kepala suku untuk membicarakan perdamaian. Pertemuan tersebut membahas 592 perkara dengan 96 pasal yang tertuang dalam Rapat hukum adat Dayak Tumbang Anoi (RDTA) tahun 1894.
Perjanjian tersebut kemudian menghasilkan perwujudan tatanan baru kehidupan masyarakat Dayak. Keselarasan hukum adat diselaraskan untuk menyudahi permusuhan.