Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tangan dan Kaki Remaja Ini Harus Diamputasi Gara-Gara Flu, Kok Bisa?

Wiwie Heriyani , Jurnalis-Kamis, 14 September 2023 |15:19 WIB
 Tangan dan Kaki Remaja Ini Harus Diamputasi Gara-Gara Flu, Kok Bisa?
Mathias terpaksa diamputasi. (Foto: Mirror)
A
A
A

BARU-BARU ini kasus langka terjadi pada seorang anak laki-laki berusia 14 tahun asal Tennessee, Amerika Serikat akibat mengalami gejala mirip flu.

Pasalnya, flu tersebut sampai harus membuat kedua tangan dan kakinya diamputasi. Hal tersebut terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa anak laki-laki yang diketahui bernama Mathias Uribe itu.

operasi

Padahal, gejala yang dialami Mathias sebelumnya sama seperti pada gejala pilek atau flu pada umumnya. Namun, lambat laun gejala-gejala tersebut berubah menjadi hampir mematikan, sehingga orang tuanya, Edgar dan Catalina Uribe langsung membawanya ke rumah sakit.

Sayangnya, keluarga kecil tersebut harus mengambil keputusan sulit dengan harus mengamputasi keempat anggota tubuh Mathias.

Masa depan dan mimpi sang putra lantas sempat terpuruk. Pasalnya, sebelum diamputasi, Mathias merupakan anak beprestasi di bidang musik, khususnya sebagai pemain piano.

Ia kini tak lagi bisa memainkan melodi indah menggunakan jemari tangan, dan bahkan kakinya. Meski begitu, Edgar dan Catalina tetap bersyukur sang putra masih hidup.

"Saat ini, bagi saya, sangat sulit untuk menerima ini, tetapi pada saat yang sama saya melihatnya dan saya berpikir, 'Dia ada di sini'.,” ujar Catalina, dilansir dari laman The Mirror.

Selama dua bulan terakhir, Mathias diketahui menjalani masa pemulihan di Rumah Sakit Anak Monroe Carrel di Vanderbilt. Dia harus menjalani perawatan di sana setelah didiagnosis menderita pneumonia dan sindrom syok toksik streptokokus serta serangan jantung.

Dilansir dari Cleveland Clinic, pneumonia adalah infeksi pada paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.

Jaringan saraf penderita penyakit pneumonia akan membengkak dan menyebabkan munculnya cairan atau nanah di dalam paru-paru.

Sementara dilansir dari Halodoc, Toxic shock syndrome (TSS) merupakan komplikasi langka yang mengancam jiwa dari jenis infeksi bakteri tertentu.

Biasanya toxic shock syndrome terjadi akibat toksin yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus (staph).

Akibat kondisi yang dialaminya itu, Mathias juga dimasukkan ke dalam mesin ECMO (oksigenasi membran ekstrakorporeal), yang tampak mirip dengan mesin bypass jantung-paru. Ia berada di dalam mesin tersebut selama hampir 2 minggu lamanya agar nyawanya bisa tertolong.

"Aliran (darah) itu tidak sampai ke seluruh ekstremitasnya, jadi mereka harus mengamputasi keempat ekstremitasnya,” ujar sang ayah, Edgar.

Dr Katie Boyle, ketua tim perawatan Mathias sekaligus seorang dokter anak ICU terus berusaha bekerja dengan rekan-rekannya untuk mencoba menyelamatkan sebanyak mungkin anggota tubuh Mathias.

Dr Katie mengungkapkan, bahwa dia sendiri jarang menemukan kondisi atau kasus seperti yang dialami Mathias.

"Ini sangat jarang terjadi. Kadang-kadang ketika Anda terserang flu, hal itu membuat Anda terkena infeksi bakteri. Namun meskipun demikian, kebanyakan anak tidak mengalami sakit yang sama seperti Mathias,” tutur Dr Katie.

Ia menambahkan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan orang tua Mathias secepatnya selain harus mengamputasi putra mereka. Sejauh ini, Mathias telah menjalani hampir berbagai jenis operasi. Bahkan, tim perawatannya mengatakan remaja tersebut masih harus menjalani beberapa operasi lagi.

Edgar dan Catalina berharap agar sang anak bisa kembali beraktivitas dengan menggunakan kaki palsu ketika telah keluar dari rumah sakit. Orangtua Mathias mengatakan, sejauh ini mereka memperkirakan akan menghabiskan sekitar satu bulan lagi di rumah sakit.

Saat ini, mereka sedang mencari tempat di Atlanta bagi Mathias untuk menerima prostetik dan rehabilitasi. Halaman GoFundMe sendiri telah disiapkan untuk membantu mendukung pemulihan Mathias.

(Dyah Ratna Meta Novia)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement