PELAKU wisata jeep Gunung Bromo menyebut mengalami kerugian cukup signifikan imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pasalnya, sudah memasuki 8 hari api di wilayah Gunung Bromo masih belum kunjung padam.
Tampak pantauan di lokasi, para sopir yang tergabung jeep itu memarkirkan kendaraannya di Blok Jemplang. Sedangkan para sopir turut bergabung dengan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan unsur lainnya.
Ketua Paguyuban Jeep Bromo Tengger Semeru, Wildan Hangga mengungkapkan, kerugian tidak hanya dialami oleh ia dan rekan-rekan komunitas jeep. Namun, ada beberapa pelaku wisata lain yang menggantungkan diri ke Wisata Gunung Bromo.
"Tidak bekerja 6 hari yang dirugikan bukan kami ada 550 armada jeep, asongan, ojek, kuda, pedagang apa saja banyak. (Kalau kami) membawahi 550 orang Tumpang, Poncokusumo, sampai Tosari," ucap Wildan Hangga saat ditemui awak media, Rabu, 13 September 2023.

Kebakaran Gunung Bromo (Foto: Ist)
Saat tutupnya Gunung Bromo, ia dan rekan-rekan komunitas memilih membantu menjadi relawan memadamkan api. Operasional logistik diambil dari pembayaran operasional saat masuk ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
"Teman-teman ini setiap hari bayar operasional, itu di lapangan satu kali keberangkatan 25 ribu, 15 ribu tabungan teman-teman sendiri, 10 ribu masuk kas, ya kasnya kita gunakan untuk ini, pokok setiap hari paling enggak ada kami sediakan 100 nasi bungkus," tuturnya.
Meski demikian, ia tidak bisa memaksa para sopir dan pelaku wisata lain untuk bergabung sebagai relawan. Terlebih menjadi relawan juga tidak dibayar dan operasionalnya mengeluarkan biaya sendiri. Risiko pun ditanggung oleh para relawan, sehingga tak jarang ada beberapa relawan yang terluka.