Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menikmati Kopi dan Roti Kukus dari Langseng Legendaris eks Kapal Laut, Cita Rasa Khas Kuliner Tempo Dulu

Fani Ferdiansyah , Jurnalis-Senin, 07 Agustus 2023 |19:04 WIB
Menikmati Kopi dan Roti Kukus dari Langseng Legendaris eks Kapal Laut, Cita Rasa Khas Kuliner Tempo Dulu
Kopi dan Roti kukus dari Langgseng Legendaris. (Foto:Fani)
A
A
A

WARUNG Kopi Mang Didin adalah salah satu tempat ngopi klasik yang berada di kabupaten Garut. Berlokasi di sebuah kios Pasar Cibodas, Kecamatan Cikajang, setiap pengunjung yang datang akan merasa bernostalgia.

Dengan bangku-bangku panjang serta meja kayu yang ditata dalam kedai, menambah kesan tempat ngopi ini sebagai warung sederhana tempo dulu. Pemilik Warung Kopi Mang Didin, Uloh Saefulloh mengatakan usaha ini awalnya dikelola sang ayah yaitu Didin Tajudin sejak tahun 1992 silam.

"Bapak sudah berjualan sekitar tahun 1978 di emperan kawasan pasar lama. Jualannya bukan kopi, tapi baju. Usai pasar lama direnovasi, bapak pindah ke pasar Cibodas sekitar tahun 1992 dan membuka warung kopi," ujar Ulih Saefulloh kepada MNC Portal Indonesia (MPI), Minggu (6/8/2023).

Kopi dan Roti Kukus dari Langseng Legendaris. (Foto: Fani)

Kopi dan Roti Kukus dari Langseng Legendaris. (Foto: Fani)

Pada tahun 1996, Uloh yang kini berusia 51 tahun menuturkan sudah ikut ayahnya berjualan. Ia belajar meracik kopi dan melayani pembeli.

Akan tetapi, di tahun 2013 sang ayah berpulang. Hingga kemudian usaha warung kopi tersebut ia lanjutkan bersama ibunya, Imas Karmanah.

"Lama mengelola warung, ibu mengundurkan diri untuk tidak berjualan lagi karena faktor usia dan kesehatan. Akhirnya saya dan adik yang memegang warung kopi ini hingga sekarang," paparnya.

Uloh Saefulloh mengungkapkan semua properti jualan seperti langseng, kursi dan meja kayu tidak pernah diganti sejak sang ayah membuka usaha. Hanya beberapa saja ada sedikit tambahan.

"Termasuk langseng yang usianya hampir 40 tahun ini tidak pernah kami ganti. Alhamdulillah tidak pernah bocor," tuturnya.

Dibuat dari bekas material kapal laut, langseng atau dandang tersebut memiliki bentuk yang unik dan merupakan ide modifikasi ciptaan sang ayah. Ada tambahan corong diatasnya serta kran air berwarna emas tembaga yang dipasang pada bagian bawah.

Rupanya model langseng yang diperuntukan untuk mengukus roti sekaligus meracik kopi tersebut menjadi faktor utama yang membuat menu-menu racikan warkop ini memiliki cita rasa khas.

"Fungsi corong itu untuk memasukkan air kedalam langseng apabila air di dalamnya habis. Air yang kami isikan adalah air yang mendidih. Jadi ketika ada pelanggan yang ingin membeli roti atau kopi sekaligus akan cepat tersaji dan selalu panas," katanya.Namun ketika pertama membuka warung kopi, lanjut Uloh Saefulloh, bukan menu roti kukus yang mereka jajakan, melainkan kue balok.

"Tapi karena bapak sudah tua dan selalu merasa capek, warung kopi kami tidak lagi menjual kue balok. Apalagi kue balok buatan kami dibuat secara manual, jadi setiap hari bapak selalu kerepotan. Lagipula pelanggan yang jajan bukan orang-orang elit, sebagian besar adalah orang-orang yang bekerja dan belanja di pasar," jelasnya.

Menu roti di Warung Kopi Mang Didin memiliki beragam isian. Diantaranya isi mentega, kelapa parut, kombinasi coklat stroberi mentega, keju juga ada bolu gulung.

Hanya dibutuhkan waktu sekitar 2-3 menit untuk mengukus agar tekstur roti berubah empuk dan legit.

"Karena air yang digunakan untuk mengukus sudah mendidih, tinggal besarkan api kompor maka uap langsung keluar. Sekitar 2-3 menit roti sudah matang," terang anak pertama dari tujuh bersaudara itu.

Infografis

Hingga saat ini, Uloh Saefulloh mengatakan roti-roti yang ia tawarkan didapat dari sebuah pabrik roti yang ada di kota Garut. Sebelum membeli dari pabrik langsung, roti-roti itu ia dapat dari seseorang yang berjualan di pinggir lapaknya ketika masih berdagang emperan pada tahun 1980.

"Penjual roti itu kemudian memberikan alamat pabriknya supaya kami bisa belanja sendiri. Sampai sekarang kami selalu rutin membeli roti ke pabrik setiap seminggu dua kali," ungkapnya.

Menghabiskan sekitar Rp600 ribu sekali belanja, roti kukus di Warung Kopi Mang Didin dibanderol Rp9 ribu per porsi.

"Untuk kopi, kami hanya menggunakan kopi sachet karena harganya yang murah dan bisa dijangkau oleh semua kalangan," ucap Uloh Saefulloh.

Kendati saat ini sudah banyak warung kopi modern menjamur di Garut, Uloh Saefulloh akan tetap mempertahankan citra dan rasa warung kopi peninggalan sang ayah.

"Warung ini akan kami pertahankan semampu kami. Terlebih ini adalah usaha peninggalan orang tua yang sudah ada dari saya kecil," pungkasnya.

(Simon Iqbal Pahlevi)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement