Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Asal-usul Bulusan, Tradisi dari Kisah Manusia Jadi Labi-Labi di Zaman Sunan Muria

Farid Maulana Faqih , Jurnalis-Selasa, 02 Mei 2023 |13:00 WIB
Asal-usul Bulusan, Tradisi dari Kisah Manusia Jadi Labi-Labi di Zaman Sunan Muria
Tradisi bulusan di Desa Hadipolo, Jekulo, Kudus, Jawa Tengah. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)
A
A
A

TRADISI Bulusan sering digelar tiap bulan Syawal atau selepas Hari Raya Idul Fitri di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tradisi bulusan jadi ajang merajut silaturahmi.

Tradisi Bulusan muncul dari cerita nenek moyang yang terkait asal muasal munculnya hewan air yang bernama bulus atau labi-labi yang diyakini merupakan jelmaan dari dua manusia bernama Kumoro dan Komari, murid dari Kiai Dudo.

Sesuai keyakinan, peristiwa tersebut terjadi pada malam 17 Ramadhan ketika ada peringatan Nuzulul Quran di Hadipolo yang dilaksanakan selesai Shalat Tarawih.

 BACA JUGA:

Pada kesempatan tersebut hadir Sunan Muria, namun saat acara berlangsung dua murid Kiai Dudo, Kumoro dan Komari mengeluarkan suara gaduh karena sedang mengambil benih padi. Lantas kedua orang tersebut dikira bulus, setelah dilihat keduanya menjadi bulus.

Meskipun telah berubah menjadi bulus, nantinya setiap 8 Syawal akan diperingati oleh anak cucunya tanpa harus diundang.

 Ilustrasi

Ilustrasi Sunan Muria (SINDO)

"Akhirnya, warga secara turun temurun melestarikan tradisi tersebut dengan merayakannya tradisi bulan Syawal dengan sebutan tradisi bulusan," kata Ketua Panitia Perayaan Tradisi Bulusan Desa Hadipolo, Mursidi seperti dilansir dari ANTARA, Selasa (2/5/2023).

Tradisi bulusan, bagi warga Hadipolo sebagai upaya memperingati hari lahirnya (haul) bulus, jelmaan dari Kumoro dan Komari.

 BACA JUGA:

Perayaan tradisi bulusan diperkirakan berlangsung sudah lama, yakni sejak puluhan tahun ketika Sunan Muria masih menjalankan syiar agama Islam di daerah tersebut.

Karena pelaksanaannya juga bertepatan dengan bulan Syawal, maka tradisi itu dimaknai pula sebagai ajang untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan antarsesama, setelah sebelumnya menjalankan puasa sebulan penuh.

Sebelumnya tradisi bulusan digelar sederhana, yakni dilakukan doa bersama kemudian dilanjutkan dengan pemberian makan terhadap sejumlah bulus yang kala itu masih berada di aliran sungai berupa ketupat dan lepet. Kini bulus yang sudah berkembang biak menjadi belasan ekor itu ditempatkan di kolam khusus.

Seiring animo masyarakat yang begitu besar untuk melihat tradisi bulusan, akhirnya dimeriahkan dengan aneka rangkaian kegiatan.

 BACA JUGA:

Di antara aneka kegiatan itu, ada kirab gunungan hasil bumi dari warga sekitar dengan rute di jalan perkampungan hingga berakhir di tempat bulus tersebut berada. Kemudian hasil bumi tersebut diperebutkan warga yang mereka yakini bisa mendatangkan berkah karena sudah mendapatkan doa dari ulama setempat.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan kupat dan lepet kepada juru kunci bulusan, lantas diberikan kepada bulus sebagai makanannya.

Pada malam harinya, dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit sekaligus ikut melestarikan kebudayaan lokal terkait wayang kulit yang saat ini mulai ditinggalkan generasi muda, salah satunya karena mereka lebih kenal dengan permainan yang tersaji dari gawai.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement