Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Masyarakat Masih Banyak Pilih Pengobatan Alternatif untuk Masalah Tulang, Kenapa?

Kevi Laras , Jurnalis-Sabtu, 11 Maret 2023 |06:00 WIB
Masyarakat Masih Banyak Pilih Pengobatan Alternatif untuk Masalah Tulang, Kenapa?
Ilustrasi, (Foto: Freepik)
A
A
A

SAAT mengalami masalah gangguan kesehatan tulang, misalnya cedera, terjatuh, patah tulang dan sejenisnya, tak dipungkiri masih banyak masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke pengobatan alternatif seperti tukang pijat atau malah mengobati sendiri, daripada periksa ke dokter spesialis tulang.

Diungkap Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, dr. Anggaditya Putra, Sp.OT,, fenomena masyarakat Indonesia lebih mempercayai pengobatan alternatif, dibandingkan ke dokter, dipicu karena rasa takut akan prosedur operasi.

"Karena stigmanya itu, takut dioperasi. Itu sudah melekat, padahal tidak seperti itu,” kata dr. Angga saat ditemui di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Ia tak menampik, selain rasa takut masing-masing individu, faktor keyakinan orang dengan pengobatan alternatif memang tinggi. Dokter Angga mengisahkan, keyakinan pribadi seperti ini pada fakta di lapangan, tidak memandang status pendidikan.

"Banyak banget, dulu sempat bikin kegiatan bersama IDI pada 2016/2017. Sulitnya itu karena kepercayaan ya, dan ini tidak menutup untuk lapisan masyarakat yang berpendidikan rendah, saya pernah bertemu ada yang sudah S2 S3 lebih memilih ke pengobatan alternatif,” paparnya.

Alih-alih langsung menolak untuk periksa ke dokter karena merasa takut akan dioperasi, dr. Angga menyarankan masyarakat setidaknya periksakan diri dulu ke dokter sebagai langkah pertama.

 

(Ilustrasi patah tulang, Foto: Shutterstock) 

“Setidaknya masyarakat minimal datang dulu ke dokter untuk mengetahui penyakitnya, datang ke dokter ortopedi," tambah dr. Angga lagi.

Dengan memeriksakan diri ke dokter, dr. Angga menegaskan penanganan akan kondisi yang dialami pasien pun bisa jauh lebih tepat dan tidak terlambat, meminimalisasi risiko yang tidak diinginkan.

"Apabila memang sakitnya ringan ya tidak apa-apa. Tapi apabila berat pasti akan diimbau dan diberikan pilihan terapi yang sesuai, sehingga tidak terlambat (pengobatannya)," tegasnya.

(Rizky Pradita Ananda)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement