“Selain itu dan kebanyakan memang selama ini, masih banyak pasien yang takut,” sambungnya.
Disebutkan lebih lanjut, rekonstruksi payudara sering terlupakan sebagai solusi bagi perempuan untuk bisa mendapatkan haknya kembali yakni payudara.
“Mereka (pasien) menganggap, yang penting sudah diangkat dan bisa hidup sehat meskipun tanpa sebagian atau seluruh payudaranya. Padahal, mereka bisa dapatkan haknya kembali dengan prosedur rekontruksi payudara ini,” tutur dr. Rachadian lagi.
Bagi perempuan yang memilih untuk melakukan rekonstruksi, diketahui bisa mempunyai beberapa pilihan pengobatan. Mulai dari pemasangan implan payudara sampai dengan rekonstruksi menggunakan jaringan dari tubuh mereka sendiri (flap), yang masing-masing punya perbedaan serta keunggulannya masing-masing.
“Kalau implan itu cepat sekali, sehari dua hari pasien sudah bisa pulang. Tapi kalau flap sedikit lebih lama, karena harus dimonitor secara ketat selama 4 bulan pertama,” tutup dr. Rachadian
(Rizky Pradita Ananda)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.